KTI Kebidanan – Hubungan Pengetahuan dan Sikap Bidan Terhadap Penyakit Menular Seksual Pada Kehamilan

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Penyakit menular seksual  sampai sekarang ini, masih menjadi masalah kesehatan, sosial maupun ekonomi diberbagai Negara (WHO, 2003) Peningkatan insidens infeksi menular seksual dan penyebarannyan diseluruh dunia tidak dapat diperkirakan secara tepat. paling tidak insidensnya relative tetap, Namun demikian di sebagian besar Negara insidens penyakit menular seksual relatif masih tinggi. Angka penyebarannya sulit ditelusuri sumbernya, sebab tidak pernah dilakukan registrasi terhadap penderita yang ditemukan. Jumlah penderita yang terdata hanya sebagian kecil dari penderita sesungguhnya, (lestari, 2008)

Penyakit menular seksual adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Menurut WHO (2009) terdapat lebih kurang 30 jenis mikroba (bakteri, virus, dan parasit) yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Kondisi paling sering ditemukan adalah infeksi gonorrhea, chlamydia, syphilis, trichomoniasis, chancroid, herpes genitalis, infeksi human immodeficiency virus (HIV), yakni HIV dan syphilis, dapat ditularkan melalui darah dan jaringan tubuh, dari ibu ke anaknya selama kehamilan, (Manuaba, 2009)

Kehamilan membutuhkan pemeriksaan dan pemantauan yang bertujuan memberikan pelayanan antenatal yang berkualitas dan deteksi dini komplikasi kehamilan sedikitnya 4 kali selama hamil, bidan juga harus mengenal kehamilan risti/kelainan, khususnya PMS dengan menanyakan dan periksa tanda dan gejala penyakit menular seksual (PMS) (standar pelayanan kebidanan,2001)

Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan kebidanan (SPK). Yang dalam penerapannya meliputi 7T dan meningkat menjadi 10T  yakni, timbang berat badan dan ukur tinggi badan, ukur tekanan darah,nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas), ukur tinggi fuundus uteri, tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ), skrining status imunisasi Tetanus dan berikan tetanus bila diperlukan, pemberian tablet zat besi, tes laboratorium (rutin dan khusus), tata laksana kasus, dan temu wicara (Depkes,2009)

Salah satu standar pelayanan antenatal adalah pelayanan tes penyakit menular seksual dimana untuk mengetahui adanya treponema pallidum/penyakit menular seksual. Prevalensi PMS di Negara sedang berkembang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Negara maju. Di Indonesia sendiri angka kejadian PMS pada ibu hamil tahun 1994,adalah 58 %, 29,5% adalah infeksi genital nonspesipik, kemudian 10,2 % Vaginosis bacterial, kandidiasis vaginalis 9,1 %,gonorea 3,4 %,trikomoniasis 1,1% dan gonorea bersama trikomoniasis 1,1%. Penyakit menular seksual dapat menimbulkan kemtian janin pada kehamilan < 16 minggu, pada kehamilan lanjut dapat menyebabkan kelahiran premature, cacat bawaan(saefudin,2000)

Dampak PMS pada kehamilan bergantung pada organisme penyebab, lamanya infeksi dan usia kehamilan pada saat perempuan terinfeksi. Hasil konsepsi yang tidak sehat sering kali terjadi akibat PMS, misalnya kematian janin (abortus spontan atau lahir mati), bayi berat lahir rendah (akibat prematurityas, atau retardasi pertumbuhan janin dalam rahim), dan infeksi congenital atau perinatal (kebutaan, pneumonia neonates dan retardasi mental). Kematian janin, baik dalam bentuk abortus spontan maupun lahir mati, dapat ditemukan pada

20-25% ibu hamil yang menderita sifilis dini, 7-54% ibu hamil dengan herpes       genital primer, dann pada 4-10% pada ibu hamil yang tidak menderita ISR. Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) dapat dijumpai 10-25% ibu hamil dengan vaginosis bacterial. Resiko trasmisi dari ibu yang hamil menderita gonore kepada janin/neonates diperkirakan 30%. Pada infeksi klamidia, resiko terjadinya konjungtivtis neonates 25-50%.

Diagnosis dan manajemen PMS pada kehamilan dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas maternal maupun janin. Sebagian besar PMS bersifat asimptomatik atau muncul dengan gejala yang tidak spesifik. Tanpa adanya tingkat kewaspadaan yang tinggi dan ambang batas tes Yang r yang lengkap dan melakukan pemeriksaan skrining yang sesuai pada pasien yang sedang hamil pada saat pemeriksaan prenatal adalah penting. (Prawirohardjo,2008).

Dalam pengamatan peneliti untuk Puskesmas Banggai di kabupaten kepulauan pelaksanaan standar pelayanan antenatal care masih 7T dan yang terlaksana dengan baik adalah 5T sedangkan untuk 2T yaitu tes penyakit menular seksual dan temu wicara, dalam pelaksanaanya jarang dilakukan bahkan tidak dilakukan, hal ini menggambarkan adanya pelayanan yang tidak memenuhi standar, yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, minimnya pengetahuan dan kepedulian /sikap bidan dalam melaksanakan tes PMS pada kehamilan pada Puskesmas Banggai.

Berdasarkan hal tersebut diatas pentingnya pelaksanaan tes penyakit menular seksual pada kehamilan, memberi dasar kepada peneliti untuk merumuskan pertanyaan penelitian “ bagaimana hubungan pengetahuan dan sikap bidan terhadap tes penyakit menular seksual pada kehamilan di wilayah Puskesmas Banggai tahun 2011”?

B. Rumusan Masalah,

  1. Bagaimanakah hubungan pengetahuan bidan tentang pelaksanaan tes penyakit menular seksual pada kehamilan di Puskesmas Banggai Tahun 2011 ?
  2. Bagaimanakah hubungan sikap bidan tentang pelaksanaan tes penyakit menular seksual pada kehamilan di Puskesmas Banggai tahun 2011 ?

C.   Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap  bidan tentang tes penyakit menular seksual pada kehamilan di Puskesmas Banggai tahun 2011.

2. Tujuan khusus

  1. Diketahuinya  pengetahuan bidan tentang  tes penyakit menular seksual pada kahamilan
  2. Diketahuinya sikap bidan tentang tes penyakit menular seksual pada kehamilan

D.   Manfaat penelitian

1. Teoritis

  1. Dari segi pengembangan ilmu, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan untuk kemajuan profesi kebidanan dalam bidang pengetahuan dan tehnologi
  2. Hasil peneltian ini diharapkan dapat menambah ilmu kebidanan tentang tes penyakit menular seksual

2. Praktis

  1. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan dan bahan pertimbangan bagi instansi dalam upaya meningkatkan keberhasilan program pelaksanaan tes penyakit menular seksual pada kehamilan
  2. Dapat digunakan sebagai data dasar, acuan atau infomasi untuk penelitian selanjutnya.
  3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada rekan sejawat tentang hubungan pengetahuan dan sikap bidan tentang tes penyakit menular seksual pada kehamilan

3. Manfaat bagi institusi

Dapat memberikan informasi tentang pentingnya tes penyakit menular seksual pada kehamilan atau sebagai sumbangan ilmiah bagi dunia pendidikan, dan sebagai bahan informasi bagi dinas kesehatan tentang standar pelayanan kebidanan pada kehamilan.

4. Manfaat bagi peneliti

Menambah pengetahuan dan pengalaman serta kecakapan peneliti pada program study D IV Bidan Pendidik Polikteknik Kesehatan Makassar

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.     Tinjauan Tentang Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari ‘’tahu‘’ dan hal ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaidra manusia, yakni indrea penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Menurut Poedjawijatna, pengetahuan merupakan tahap awal bagi seseorang untuk berbuat sesuatu. Karena itu kalau dilihat manusia sebagai individu maka unsur yang diperlukan agar ia dapat berbuat sesuatu adalah :

Pengetahuan tentang apa yang dilakukan

Keyakinan atau kepercayaan tentang manfaat dan kebenaran dari apa yang dilakukannya

Saran yang diperlukan untuk melakukan

Dorongan atau motifasi untuk berbuat yang dilandasi oleh kebutuhan yang dirasakan

Pengetahuan dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan menurut BlOom (Notoatmojo S, 2007)

1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya dan mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima

2. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasi materi tersebut secara benar

3. Aplikasi

Aplikasi berarti kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan pebggunaan hokum-hukum, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain

4. Analisis

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek, komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain

5. Sintesis (Sintesys)

Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuik meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk kesuluruhan yang baru

6. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan baik secara lisan maupun dengan menggunakan angket kepada responden tentang isi materi yang akan diukur. Kepada pengetahuan seseorang/responden yang diukur berdasarkan tingkatan pengetahuan tersebut diatas. Dimana pengetahuan dapat diperoleh melalui pendidikan formal (sekolah) maupun non formal  (media massa)

Menurut (Arikunto S, 2006s) bahwa kategori dalam pengetahuan meliputi :

1)     Baik              : Bila pertanyaan dijawab dengan benar ≥ 75%

2)     Cukup          : Bila pertanyaan dijawab dengan benar ≥ 60-75%

3)     Kurang        : Bila pertanyaan dijawab dengan benar < 60%

B.    TINJAUAN TENTANG SIKAP

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulant atau objek (Notoatmodjo s , 2005). Setiap tindakan selalu diawali oleh proses yang cukup kompleks. Sebagai titik awal penerimaan suatu stimulus, sementara dalam individu terjadi dinamika berbagai psikofisik seperti kebutuhan, perasaan, perhatian, dan pengambilan keputusan.

Menurut Krathwohi disebut bahwa sikap seseorang terhadap sesuatu mempunyai tahapan-tahapan sebagai berikut :

  1. Menerima (receiving) adalah bila seseorang (Subjek) telah menyadari adanya suatu perhatian dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut    (Obyek)
  2. Menghargai (Valuing)  adalah bila seseorang telah mampu menilai, menghayati permasalahan dan melaksanakannya.
  3. Bertanggung jawab (responsible) adalah bila seseorang telah melaksanakan segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah sikap yang paling tinggi

Pengukuran sikap  dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat dilakukan dengan menanyakan pendapat atau pertanyaan seseorang/ responden terhadap suatu obyek, sedangkan  secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan hipotesis kemudian ditanyakan pendapat responden (Notoatmodjo S,2005)

 C.    TINJAUAN UMUM TENTANG KEHAMILAN

Masa kehamilan , dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konspsi sampai 3bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan. (Prawirahardjo, 2002)

Kehamilan dapat terjadi karena adanya hubungan seksual antara perempuan dan laki-laki.jika dalam 35 menit dalam perjalanan

Sperma bertemu dengan sel telur/ovum,akan terjadi pembuahan, dengan masuknya sperma dalam ovum, selanjutnya akan berubah menjadi sel baru yang sama(zygote).kemudian zygote tersebut membelah menjadi 2 sel, sehingga terbentuk lingkaran sel yang disebut morula. Morula ini akan mengalami pembelahan diri secara berulang- ulang dan berubah menjadi blastosit. Kemudian blstosit akan menempel pada dinding rahim (implantasi), disitulah tempat janin memperoleh nutrisi dan oksigen dari ibunya sampai ia tumbuh dan membesar.

1. Perkembangan Kehamilan

Mengamati pertumbuhan dan perkembangan bayi merupakan suatu peristiwa yang sangat mengaggumkan. Bagaimana tidak, hanya dari sebutir sel tunggal yang akan tumbuh menjadi calon manusia baru, Sembilan bulan tumbuh dalam rahim ibunya menjadi manusia sempurna dan lahir kedunia.

2. Tidak datangnya menstruasi

Seseorang yang telah melakukan hubungan seksual dan dalam 1minggu atau lebih tidak mendapatkan menstruasi dari jadwal yang seharuisnya , kemungkinan besar hamil. Akan tetepi tidak menstruasi bukan berarti hamil, ingat kehamilan hanya terjadi bila ada pembuahan antara sel telur dan sperma melalui hubngan seksual, Keterlambatan menstruasi dapat disebabkan karena program diet, strees, dan lain-lain.

3. Perubahan pada payudara

Payudara akan memedat dan kencang yang akan berlansung lama dan akan semakin membesar disertai dengan rasa kesemutan. Perubahan ini disebabkan karena pengaruh hormone progesterone dan estrogen. Selain itu saluran saluran jaringan payudara telah dialiri darah dan bahkan telah memproduksi ASI oleh pengaruh hormone proklaktin.

4. Sering buang air kecil

Hal ini disebabkan karena kerja ginjal meningkat sehingga kandung kencing cepat terisi.

5.  Mual-muntah dan muntah

Biasanya terjadi pada pagi hari pada trtimester 1 kehamilan dan akan berakhir setelah umur kehamilan 12 minggu. Penyebabnya belum jelas, tapi diduga faktor emosi dan cemas yang berlebihan bisa jadi pemicunya. Pada pagi hari mual disebabkan asam lambung sisa malam hari masuih memenuhi lambung. Cara mengatasinya adalah dengan menghindari makanan yang berlemak, jika sangat mengganggu harus segera memeriksakan diri pada bidan/dokter.

Selain mual muntah, adapula yang mengalami ngidam yaitu kelakuan aneh tanpa alas an yang tepat misalnya menginginkan sesuatu yang aneh-aneh.

6. Perkembangan janin

a. Usia kehamilan 6 minggu

Pada usia ini panjang janin 1,25 cm, sebagian anggota tubuhnya sudah terbentuk tetapi belum sempurna

b. Usia kehamilan 8 minggu

Panjang janin 2,5 cm, tangan dan kaki sudah lengkap, kelopak mata sudah terbentuk, tapi masih tertutup, jantung, ginjal, pencernaan sudah berfungsi, darah mengalir keseluruh tubuh.

c. Usia kehamilan 12 minggu

Ukuran sudah mencapai 7 cm, bentuk tubuh sudah nampak, kelamin namun kepala masih nampak membesar, alat kelamin luar sudah terbentuk tapi belum diketahui jenisnya. Otot dan saraf sudah berfungsi.

d. Usia kehamilan 16 minggu

Panjang janin mencapai 8 cm dengan berat 100 gram. Otot dan denyut jantung sudah kuat, kepala masih lebih besar dari badan, kulit masih tipis dan warna merah. Jenis kelamin sudah dapat diketahui, berat plasenta/uri sama dengan berat janin.

e. Usia kehamilan 20 minggu

Pertumbuhan cepat, gerakan halus dapat dirasakan oleh calon ibu. Panjang janin 25 cm dengan berat 300 gram. Kulity semakin tebal dan ditumbuhi rambut-rambut halus. Rambut kepala sudah mulai tumbuh, alis terbentuk. Organ dalam semakin berfungsi sempurna, kecuali paru-paru menghirup udara dari luar rahim.

f. Usia kehamilan 24 minggu

Panjang janin kira-kira 32 cm dengan berat 650 gram. Bagian kulit sudah mulai tertimbun lemak, kepala masih besar, kelopak mata sudah mulai terbelah tapi bola mata terlapisi oleh selaput tipis.

g. Usia kehamilan 28 minggu

Rahim sudah mencapai 4 jari diatas pusat. Panjang janin mencapai 38 cm dengan berat 1000 gram.gerakan semakin aktif, detak jantung sudah dapat didengar pada pemeriksaan auskultasi (dengar dengan menggunakan alat/laenec), mata terbuka.

h. Usia kehamilan 32 minggu

Panjang janin mencapai 43 cm denga berat 1.800 gram. Paru-paru sudah semakin mengembang, tengkorak kepala masih lunak.

i. Usia kehamilan 36 minggu

Puncak rahim sudah mencapai tulang iga paling bawah/prosesus xepodeus. Panjang janin 46 cm dengan berat 2.500 gram. Tubuh semakin berisi karena lemak yang tersimpan dibawah kulit dan disekitar pundak, kuku-kuku jarinya sudah memenuhi ujung jari.

j. Umur kehamilan 40 minggu

Berat janin mencapai 3.300 gram dan anggota tubuh sudah terbentuik setelah sempurna. Kepala sudah dipenuhi rambut, tengkorak kepala sudah keras dan kuat, kecuali ubun-ubun, mata sudah terbuka sempurna, telinga dan hidung telah terbentuk. Begitu pula alat kelamin, bagi laki-laki buah pelir sudah dikantungnya, sedang pada perempuan labia mayora sudah menutup. Bayi sudah siap untuk hidup di dunia luar (aterm/cukup bulan).

3. Pelayanan Antenatal

Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yanmg ditetapkan dalam standar pelayanan kabidanan (SPK). Pelayanan antenatal sesuai dengan standar meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan), pemeriksaan laboratorim rutin dan khusus, sertsa intervensi umum dan khusus(sesuai resiko yang ditemukan dalam pemeriksaan). Dalam penerapannya terdiri atas :

  1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan.
  2. Ukur tekanan darah.
  3. Nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas).
  4. Ukur tinggi fundus uteri
  5. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin(DJJ)
  6. Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan
  7. Pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan.
  8. Test laboratorium (rutin dan khusus).
  9. Tatalaksana kasus
  10. Temu wicara (konseling), termasuk perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (PSK) serta KB pasca persalinan.

Dengan demikian maka secara operasional, pelayanan antenatal disebut lengkap apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan serta memenuhi standar tersebut dan frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan.

Dalam standar pelayanan kebidanan pada standar ke-4 yaitu pemeriksaan dan pemantauan antenatal bertujuan memberikan pelayanan antenatal yang berkualiatas dan deteksi dini komplkasi kehamilan, dimana bidan memberikan sedikitnya 4 kali pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesis dan pemantauan ibu dan janin denga saksama untuk menilai apakah perkembangan berlansung normal, bidan juga harus mengenal kehamilan risti/kelainan, hipertensi, PMS/ infeksi HIV.\

D.    TINJAUAN UMUM TENTANG PENYAKIT MENULAR SEKSUAL

1. pengertian

Penyakit menular seksual adalah infeksi yang disebabkan  oleh bakteri, virus, parasit, atau jamur, yang penularannya terutama melalui hubungan seksual dari seseorang yang terinfeksi kepada mitra seksualnya.

Penyakit menular seksual reltif sering terjadi pada kehamilan , terutama pada penduduk perkotaan, prostitusi mewabah. Penapisan, identifikasi, edukasi dan terapi merupakan konmponen  penting pada perawatan prenatal wanita yang beresiko tinggi mengidap penyakit2 ini . penyakit menular seksual yang sering diperiksa adalah siflis, gonorea, klamidia, herpes, HIV, dan HPV.(Cunningham,2005).

Penyakit menular seksual adalah penyakit kelamin yang cara penularannya melalui hubungan kelamin.dulu penyakit ini dikenal dengan nama “venaral diseases” berarti penyakit Dewi cinta menurut versi yunani.

2. Tujuan

Untuk memutuskan rantai penularan infeksi Penyakit Menular Seksual, dan untuk mencegah berkembangnya penyakit menular seksual dan komplikasinya

Tujuan tersebut dapat dicapai melalui :

  1. Mengurangi pajanan PMS dengan program penyuluhan untuk menjaukan masyarakat terhadap perilaku resiko tinggi.
  2. Mencegah infeksi dengan anjuran pemakaian komdom bagi yang berprilaku resiko tinggi
  3. Meningkatkan kemampuan diagnosis dan pengobatan sertya anjuran untuk mencari pengobatan yang tepat.
  4. Membatasi komplikasi denga melakukan pengobatan dini dan efektif baik

3. Jenis-jenis penyakit menular seksual

a. Penyakit sifilis

Angka kejadian di Indonesia tidak diketahui dengan pasti karena penderita sifilis stadium primer tidak menimbulkan keluhan sehingga penderita tidak berobat. Infeksi sifilis berlansung tiga tahap dengan masa inkubasi 60 – 90 hari dan rata –rata 6 minggu (42 hari)  (Manuaba,2007)

Sifilis merupakan penyakit infeksi sitemik disebabkan oleh Treponema pallidum yang dapat mengenai organ tubuh, mulai kulit, mukosa, jantung hingga susunan saraf pusat dan juga dapat tanpa manifestasi lesi ditubuh. Infeksi terbagi atas beberapa fase, yaitu sifilis primer, sifils sekunder, sifilis laten dini dan lanjut, serta neurosifilis. Sifilis umumnya ditularkan lewat kontak  namun juga dapat secara vertical pada masa kehamilan. Pada kehamilan gejala klinik tidak banyak berbeda dengan keadaan tidak hamil.Tranmisi treponema dari ibu kejanin umunya terjadi setelah plasenta terbentuk utuh, kira – kira sekitar umur kehamilan 16 minggu,oleh karena itu bila sifils primer atau sdekunder ditemukan pada 16 minggu, kemungkinan untuk timbulnya sifilis congenital lebih memungkinkan.

b. Gonorrhea

Angka kejadian pada ibu hamil dan masyarakat tidak diketahui karena tidak semuanya memeriksakan diri. Infeksi gonorrhea pada kehamilan tidak menimbulkan kelainan kongenita, tetapi menyebabkan infeksi terutama pada mata dan menimbulkan konjungtivitis blnorrhea dan dapat menyebabkankebutaan jika pengobatannya terlambat.

Infeksi gonore selama kehamilan telah diasosiaskan dengan pelvic inflammatory disease (PID). Infeksi ini sering ditemukanpada trimester pertama sebelum korion berfusi denga desidua dan mengisi kavum uteri

Pada tahap lanjut, Neisserioniria gonorrhea diasisiasikan dengan rupture membrane frematur, kelahiran premature, korioamnionitis, dan infeksi pasca persalinan. Oleh karena itu, untuk perempuan hamil dengan resiko tinggi dianjurkan untuk dilakukan skrining terhadap infeksi gonore pada saat datang untuk pertama kali antenatal dan juga trimestaer ketiga kehamilan. Dosis dan obat- obat yang diberikan tidak berbeda dengan keadaan tidak hamil.( Prawirohardjo dkk,2008)

 c. Chlamidia trachomatis

Infeksi chlamidai trachomatis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Chlamidia trachomatis, berukuran 0,2 – 1,5 mikron, berbentuk sferis, tidak bergerak, dan merupekan parasit intarsel obligat.n infeksi hubungan seksual yang sering bersamaan dengan infeksi

Infeksi CT merupaka neisseria gonorrhea perbedaannya bersifat ringan,tetapi berjalan menahun dan dapat menimbulkan kerusakan khususnya pada tuba falopii, serta menimbulkan infertilitas.

Perempuan yang hamil yang terinfeksi denga chlamidia trachomatis menunjukkan gejala keluarnya, secret vagian, perdarahan, disuria dan nyeri panggul. Dampak CT Pada kehamilan dapat mengakibatkan abortus spontan, kelahiran frematur, dan kematian perinatal. Oleh karena itu untuk perempuan hamil dengan resiko tinggi juga dianjurkan untuk dilakukan skrining terhadap infeksi CT pada saat datang pertama kali dan juga pada trimester ketiga kehamilan.

d. Herpes simplek pada kehamilan

Infeksi herpes simpleks merupakan IMS virus yang menempati urutan kedua tersering di dunia dan penyebab tersering dinegara maju.Trasmisi virus dapat terjadi melalui kontak seksual dengan pasangan yang terinfeksi, tetapi juga dapat secara vertical dari ibu kepada janin yang dikandungnya. Sekitar 70 % infeksi pada neonates terjadi pada saat persalinan ketika bayi barkontak lansung melalui jaln lahir dengan duh vagina ibu yang terinfeksi. Selain itu infeksi dapat terjadi pada saat janin berada didalam kandungan secara asendens dari serviks atau vulva, maupun translasental. Penatalaksanaan HG pada kehamilan dapat dibedakan antara perempuan hamil dengan episode primer dan perempuan hamil dengan episode rekurens.

 Human papilloma virus cepat berkembang saat hamil mungkin karena beberapa faktor, :

1)  Perubahan hormonal, sehingga makin banyak terjadi sekresi pada kelenjar sekitar jalan lahir, dan menyebabkan suasana selalu basah

2)  Perubahan pH cairan jalan lahir yang mungkin memberikan kemudahan untuk berkembangnya virus dan menimbulkan papiloma.

Tempat papiloma berkembang, disekitar vagina, perineum, bahkan dalam vagina akan menyulitkan persalinan. Liang vagina agak kaku dan mudah berdarah.

e. Trikomonas vaginalis

Sekitar 20-30% ibu hamil mempunyai parasit trokomonas sebagai komensal. Infeksi berkembang jika terjadi perubahan pH cairan vagina, dengan menimbulkan gejala :

1)  Mengeluarkan lekorea hijau – kuning

2)  Gatal dan berbau

3)  Cairannya purulen.

4)  Terdapat erithema pada vulvaginal dan gambaran strawberry pada serviks.pengaruhnya terhadap kehamilan tidak terlalu besar, karena infeksi bersifat local.

f. HIV dan AIDS

Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah sindroma dengan gejala penyakit infeksi oportunistik atau kanker tertentu akibat menurunnya sistem kekebelan tubuh oleh infeksi Human Immunodeficiency virus (HIV)

Virus masuk ke dalam tubuh manusia terutama melalui perantara darah, semen, dan secret vagina sebagian (75 %) penularan terjadi melalui hubungan seksual.

Diseluruh dunia, diperkirakan 30 juta orang ,telah mengidap infeksi HIV, sedangkan anak-anak diperkirakan sekitar 1,4-2 juta tertular dengan berbagai cara,sementara yang sedang menderita tidak dapat diobati dengan baik. Di Indonesia yang terletak diantar dua samudra dan dua benua, 245.000 orang telah mengidap infeksi HIV.tingkat infeksi pada perempuan hamil di Negara-negara Asia diperkirakan belum melebihi

3-4% , tetepi epideminya berpotensi untuk terjadi lebih besar.pada tahun 1999 The Institut Of Medicine (IOM) telah merekomendesikan pemeriksaan HIV untuk semua perempuan hamil sepengatahuan perempuan tersebut, disertai hak pasien untuk menolak.

Telah banyak bukti menunjukan bahwa keberadaan IMS meningkatkan kemudahan IMS dianggap sebgai kofaktor HIV. Oleh karena itu, upaya pengendalian infeksi HIV dapat dilaksanakan dengan melakukan pengendalian IMS.

 

BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL

A.   Dasar Pemikiran

Kehamilan adalah dimulainya pembuahan sel telur oleh sperma sampai dengan lahirnya janin (BKKBN,2005). Kehamilan matur (cukup bulan) berlansung kira-kira 40 minggu (280 hari) Dan tidak lebih dari 43 minggu (300 hari). Menurut usia kahamilan, kahamilan dibagi menjadi kehamilan trimester pertama 0-14 minggu, trimester kedua,14-28 minggu, trimester ketiga,28-42 minggu (Mansjoer,2007).

Penerapan tes penyakit menular  seksual pada kehamilan merupakan salah satu standar dalam pelayanan antenatal yaitu standar ke- 8 dari standar 10 T.pelayanan antenatal sesuai standar meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan) pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus,serta intervensi umum dan khusus (sesuai risiko yang ditemukan dalam pemeriksaan). Pemeriksaan klinik pada penyakit menular seksual, lebih menekankan pada pemeriksaan genital dan organ-organ yang berhubungan. Prinsipnya sama seperti pada pemeriksaan klinis lainnya yaitu Anamnese dan pemeriksaan fisik.

Penatalaksanaan PMS berdasarkan pendekatan syndrome oleh bidan dengan tujuan untuk memutuskan rantai penularan infeksi PMS dan untuk mencegah berkembangnya PMS dan komplikasinya.

Diagnosis dan manajemen IMS pada kehamilan dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas maternal maupun janin. Sebagaian besar IMS pada kehamilan barsifat asimtomatik atau muncul dengan gejala tidak spesifik. Tanpa adanya tingkat kewaspadaan yang tinggi dan ambang batas tes yang rendah, sejumlah besar kasus IMS dapat terlewatkan yang pada akhirnya mengarah pada hasil perinatal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, riwayat IMS yang lengkap dan melakukan pemeriksaan skrining yang sesuai pada pasien yang sedang hamil pada saat pemeriksaan prenatal  yang pertama adalah penting.


 

B. KERANGKA KONSEP PENELITIAN

PENGETAHUAN

SIKAP

KETERAMPILAN

PELAKSANAAN TES PENYAKIT MENULAR SEKSUAL PADA KEHAMILAN

Keterangan               :

: Variabel dependen

: variabel indepen

: Variabel yang diteliti

: Variabel tidak diteliti


 C.   Definisi Operasional dan Kriteria objektif

1. Pengetahuan

Yang dimaksud Pengetahuan yaitu  semua hal yang  diketahui oleh seorang bidan pelaksana  tentang penyakit menular seksual pada kehamilan yaitu pengertian, tujuan, penyebab, gejala dan penanganannya.

Skala ukur                      : Ordinal

Kriteria Objektif :

Baik                     :  jika skor penilaian 8-15 dari 15 pertanyaan

Kurang                :  jika skor penilaian < 8 dari 15 pertanyaan

2. Sikap

Sikap yang dimaksud adalah semua sikap yang  dimiliki oleh seorang bidan pelaksana terhadap pelaksanaan tes penyakit menular seksual pada kehamilan.

Skala ukur                      : Ordinal

Kriteria Objektif  :

Baik                                 : jika jumlah skor ≥ 62.5 %

Kurang                            : Jika jumlah skor < 62.5 %

D. Hipotesis penelitian

Ho : Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap bidan

Dengan tes penyakit menular seksual pada kehamilan

Ha : Terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap bidan

Dengan tes penyakit menular seksual pada kehamilan

BAB IV

METODE PENELITIAN

A.   Jenis Penelitian

Jenis penelitian adalah penelitian Cross sectional yang bersifat analitik, karena penelitian ini ingin mengetahui apakah ada hubungan variabel yang satu atau lebih dengan variabel yang lain.

B.   Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini direncanakan dalam bulan agustus 2011 yang berlokasi di Puskesmas Banggai kab.banggai kepulauan

C.   Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmojo,2005)

Pada penelitian ini sebagai populasi adalah semua bidan yang bertugas dan bartanggung jawab diwilayah kerja puskesmas banggai berjumlah 32 orang.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan sampling tertentu untuk bisa memenuhi/mewakili populasi (Nursalam,2001)

Penentuan ukuran sampel diambil dengan cara total sampling yaitu semua bidan yang menjadi populasi dijadikan sampel penelitian.

D.   Instrumen Penelitian

Pada penelitian ini, instrumen penelitian yang digunakan adalah dalam bentuk lembar kuesioner yang berisi daftar pertanyaan.

E.   Pengumpulan data 

Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah survey dengan lembar kuesioner yang berisi daftar pertanyaan seputar pengetahuan dan sikap bidan dengan tes penyakit menular seksual pada kehamilan.

Skala Likert adalah sebuah skala untuk mengukur pengetahuan bidan berjumlah 15 item, untuk sikap pernyataan berjumlah 10 item dengan distribusi pernyataan negatif berjumlah 4 item (1, 2, 3, 4) dan pernyataan  positif  6 item (5, 6, 7, 8, 9, 10)

F.    Metode Pengumpulan Data

1.  Pengolahan data

data diolah dengan sistim manual dan komputerisasi. Penyajian data dilakukan dengan bentuk tabel. Pengolahan data melalui tahap-tahap sebagai berikut :

a. Editing

b. Koding

c. tabulasi data

2. Analisa data

a. Univariat disajikan dalm bentuk tabel dan diagram

Hasil dari pengolahan data akan dianalisis dengan menggunakan statistic. Hasil analisis akan dibandingkan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan tes penyakit menular seksual pada kehamilan.

b. Bivariat disajiakan dalam bentuk tabel dan uji statistik

Tahap analisa data menggunakan uji statistic bivariat untuk mengatahui ada hubungan antar variabel.

About these ads

Perihal andiagussalim
1. Pusat Rental Komputer & Jasa Pengetikan 2. Percetakan 3. Penerbitan 4. Fotography & Videography Lokasi : Jln. Wijaya Kusuma Raya No. 62 Banta-bantaeng Makassar 90222

Komentar :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s