KTI Kesehatan Gigi – Pengaruh Frekuensi Menyikat Gigi Terhadap Tingkat Kebersihan Mulut pada Anak

Ketikan Lengkap dalam bentuk word, silahkan download :
KTI JKG – Pengaruh Frekuensi Menyikat Gigi Terhadap Tingkat Kebersihan Mulut

BAB II 

TINJAUAN PUSTAKA

 A.   Frekuensi Menyikat Gigi
1. Definisi Standar
Standar adalah sesuatu yang dipakai contoh atau dasar yang sah bagi ukuran, takaran, timbangan. Secara luas standar didefinisikan sebagai suatu pernyataan atau harapan mengenai input, proses, prilaku, dan outcome pada sistem kesehatan. Secara sederhana standar menyatakan apa yang kita harapkan terjadi dalam perjalanan kita untuk mencapai layanan kesehatan yang bermutu tinggi. Standar penting karena mereka merupakan alat organisasi untuk menerjemahkan mutu ke dalam istilah operasional dan menjaga setiap orang dalam sistem ( pasien , penyedia layanan, tenaga pendukung, pimpinan ) agar dapat mempertanggung jawabkan perannya masing-masing. Standar juga membuuat organisasi dapat mengukur tingkat mutunya. Standar, indicator, batas merupakan elemen yang membuat suatu system jaminan mutu bekerja dalam suatu cara yang terukur, objektif, dan kualitatif.


Dikalangan professional layanan kesehatan, terdapat banyak definisi dan penggunaan kata “standar”. Istilah standar terkadang digunakan untuk menggambarkan protocol, standard operating procedurs ( SOP ), spesifikasi, criteria praktik, dan pedoman praktik klinis. Pedoman adalah pernyataan para ahli yang menggambarkan prosedur yang direkomendasikan atau dianjurkan ( Eddy dan Couch, 1991 ). Pedoman berfungsi sebagai referensi tekhnis yang dapat disesuaikan dari menggambarkan apa yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh penyedia layanan kesehatan pada kondisi tertentu. Sebuah protocol berisi persyaratan yang lebih ketat dibandingkan pedoman, misalnya protocol WHO untuk menajemen kasus diare. SOP merupakan sebuah pernyatan mengenai sebuah cara yang seharusnya dilakukan oleh staf suatu organisasi dalam melaksanakan aktifitas tertentu. Kesimpulannya semua itu ( pedoman, protocol, SOP ) merupakan standar. Ada berbagai macam cara agar suatu organisasi dapat secara jelas mendefinisikan apa yang diharapkannya pada : (1.) Input ( Sumber daya ), seprti material, obat-obatan, perlengkapan, tenaga ; (2.) Proses pemberian layanan, aktifitas, tugas dan prosedur ; (3.) Outcome yang diinginkan ( hasil ) dari proses itu. ( Donabedian, 1980 ).

Walupun terdapat banyak sumber mengenai berbagai standar yang saat ini digunakan untuk disesuaikan menurut kebutuhan tertentu dan adanya peningkatan minat dalam membuat standar pada organisasi layanan kesehatan, masih terdapat beberapa tantangan terhadap proses ini :

a.  Kebergantungan pada criteria eksplisit.

Dokter, perawat, dan professional lainnya dapat menolak standar dengan alasan bahwa standar bertentangan dengan penilaian subjektif mereka yang telah terbentuk selama mereka melakukan praktik. Beberapa professional berpendapat bahwa pengobatan adalah bagian dari seni, dan bagian dari ilmu pengetahuan, serta standar mengharuskan mereka mendiagnosis  dan memberikan pengobatan tanpa membiarkan mereka menggunakan penilaian profesionalnya. Professional lainnya merasa takut jika standar akan digunakan sebagai suatu hukuman, untuk mengidentifikasi dan menghukum profesional yang dalam pekerjaannya tidak memenuhi batasan tegas yang ditetapkan  dalam standar. Selain itu, yang lainnya merasa keberadaan standar membuat praktik pengobatan seperti “ buku petunjuk langkah-langkah pengobatan” dan menghalangi kemampuan berkreativitas dalam mendiagnosis dan mengobati pasien. Tentu saja masalah lainnya adalah standar yang memiliki atau dianggap memiliki dampak nyata yang berpengaruh pada praktik pengobatan.

Hal-hal seperti itu merupakan masalah yang wajar terjadi dan mengharuskan organisasi untuk mengatasinya dengan cara yang positif sebelum menyusun atau menerapkan standar.

b.  Mengidentifikasi sumber daya manusia.

Fisik, dan keuangan yang tepat, penyusunan atau penyesuaian standar membutuhkan waktu dan tenaga. Terkadang hal tersebut mengharuskan organisasi mencari para ahli bidang tertentu diluar sumber daya manusia yang dimiliki organisasi tersebut. Dengan mempertimbangkan semua itu organisasi akan membutuhkan biaya tertentu yang harus dievalluasi sebelum  menentukan apakah upaya-upaya yang dilakukan sesuai denagn biaya yang dianggarkan. Proses penyusunan standar merupakan bagian penting dalam siklus perbaikan mutu. Proses itu biasanya diikuti dengan pengomunikasian standar, kemudian pemantauan kepatuhan terhadap standar melalui berbagai indicator. Melalui proses pemantauan, dapat diidentifikasi kesenjangan antara yang diharapkan terjadi dalam layanan kesehatan sesuai ketetapan standar dan apa yang terjadi dalam kenyataan. Standar membutuhkan modifikasi, peningkatan atau pembaruan sehingga harapan organisasi terhadap mutu dapat dipenuhi. Standar harus secara periodic dinilai voliditas, reabilitas, kejelasan, kemudahan dalam penerapannya. Penyusunan standar adalah sebuah komponen penting dalam pendefinisian dan perbaikan mutu pelayanan. Melalui standar, sebuah organisasi mendefinisikan apa yang diharapkannya pada input, proses dan outcome layanan yang disediakan.

Melalui indikator mereka, standar menjadi suatu bagian alat pemantauan mutu layanan, alat identifikasi masalah dan alat ukur perbaikan jasa layanan kesehatan yang diberikan. Penyusunan standar dapat dilakukan dengan pendekatan metodologi tujuh langkah : mengidentifikasi sebuah system atau fungsi yang membutuhkan standar; mengidentifikasi sebuah tim untuk menyusun standar ; mengidentifikasi input, proses dan outcome fungsi atau system; mendefinisikan karakter mutu ; menyusun atau menyesuaikan standar; menyusun indikator; dan menilai kesesuaian standar.

Tujuan menyusun standar adalah untuk menjamin mutu pemberian perawatan pasien. Supaya ketetapan standar berhasil diterapkan, standar tersebut harus dikomunikasikan kepada mereka yang bertanggung jawab untuk menerapkannya. Keberhasilan dalam mengomunikasikan standar berarti bahwa para sasaran komunikasi benar-benar memahami pesan yang disampaikan, menerimanya, dan melaksanakan tanggung jawabnya dengan tepat. ( A.F. Al-Assaf, 2003 )

2.  Definisi Pelayanan Kesehatan

Pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik, menyediakan kepuasan langganan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan pelayanan sebagai usaha melayani kebutuhan orang lain. Pengertian pelayanan kesehatan banyak macamnya. Menurut Levey dan Loomba ( 1973 ), yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan ialah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok ataupun masyarakat.

Untuk dapat disebut sebagai suatu layanan kesehatan yang baik, maka harus memiliki berbagai persyaratan pokok. Syarat pokok yang dimaksud adalah :

a.  Tersedia dan berkesinambungan

Syarat pertama pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan kesehatan tersebut harus tersedia dimasyarakat serta bersifat kesinambungan. Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat tidak sulit ditemukan, serta keberadaan nya dalam masyarakat adalah pada setiap saat yang dibutuhkan.

b. Dapat diterima dan Wajar

Syarat pokok pelayanan kesehatan yang baik adalah dapat diterima oleh masyarakat serta bersifat wajar. Artinya pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan dan dengan kepercayaan masyarakat. Pelayanan kesehatan yang bertentangan dengan adat istiadat, kebudayaan, keyakinan dan kepercayaan masyarakat, bersifat tidak wajar, bukanlah suatu pelayanan kesehatan yang baik.

c. Mudah dicapai

Syarat pokok ketiga pelayanan kesehatan yang baik adalah yang mudah dicapai oleh masyarakat. Pengertian letercapaian yang dimaksudkan disini terutama dari sudut lokasi. Dengan demikian untuk dapat mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik, maka pengaturan distribusi sarana kesehatan menjadi sangat penting.

d. Mudah dijangkau

Syarat pokok keempat pelayanan kesehatan yang baik adalah mudah dijangkau oleh masyarakat. Pengertian keterjangkaun yang dimaksudkan disini dari sudut biaya. Untuk mewujudkan keadaan yang seperti ini harus dapat diupayakan biaya pelayanan kesehatan tersebut sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat.

e. Syarat pokok kelima pelayanan kesehatan yang baik adalah yang bermutu.

Pengertian mutu yang dimaksud disini adalah yang menunjukkan pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan, yang disuatu pihak dapat memuaskan  para pemakai jasa pelayanan.

Keberhasilan suatu kegiatan  banyak tergantung kepada sumber daya manusianya. Didalam bidang kesehatan gigi, sumber daya manusia memegang peranan penting. Sumber daya manusia didalam kegiatan kesehatan gigi adalah dokter gigi, perawat gigi, tekhniker gigi dan tenaga lainnya yang terkait. Bagi perawat gigi adalah salah satu sumber daya manusia dibidang kesehatan gigi. Didalam melakukan kegiatannya baik secara langsung maupun tidak langsung perawat gigi akan bersentuhan dengan segala persoalan yang berkaitan dengan sumber daya manusia dan juga didalam pengembangan tugasnya,ia memungkinkan dapat berkesempatan berperan sebagai salah satu unsur dalam bidang  sumber daya manusia.( Syahlan, 1999 )

Standar pelayanan kesehatan adalah ukuran yang ditetapkan dan disepakati bersama, merupakan tingkat kinerja pelayanan kesehatan yang diharapkan. Standar pelayanan kesehatan adalah patok duga pencapaian yang didasarkan pada tingkat keprimaan yang diinginkan. Standar dapat dijadikan model pelayanan kesehatan untuk dicontoh dan digunakan sebagai dasar studi banding (WHO). Standar pelayanan kesehatan yang tidak didasarkan oleh bukti atau disusun dengan interpretasi yang salah terhadap bukti dapat merugikan pasien/klien. Diterapkannya standar kadang-kadang mengabaikan kompleksitas pelayanan maupun variabilitas yang dimiliki oleh pasien/klien. Selanjutnya, penilaian yang tidak adil terhadap mutu pelayanan kesehatan dapat terjadi akibat digunakannya standar yang tidak tepat. Selain itu, dapat terjadi juga ketidakcocokan standar yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga.

Terdapat tiga jenis standar pelayanan kesehatan  yang kita kenal baik, yakni : 1. Standar struktur, yaitu bersumber daya manusia, uang, material, peralatan dan mesin. 2. Standar proses pelayanan kesehatan, yakni tahapan kegiatan yang dilakukan dalam pelayanan kesehatan. 3. Standar hasil pelayanan kesehatan, yakni hasil-hasil (outcome) yang diharapkan. Sementara itu, beberapa ahli membedakan standar menjadi dua, yaitu standar eksternal yang disusun oleh pihak diluar organisasi pelayanan kesehatan  dan standar internal yang disusun sendiri oleh organisasi pelayanan kesehatan. Selain itu, dikenal juga adanya standar minimal (minimal standar), yakni standar yang tidak dapat ditawar. Pencapaian pelayanan kesehatan tidak boleh berada di bawah standar tersebut. Sebaliknya, standar optimal (optimal standar) merupakan tingkat terbaik yang dapat dicapai (achievable standar), yakni tingkat kinerja yang dapat dicapai oleh top quartile dari pelayanan kesehatan. ( Nurhasyimadunair, 2008 ; waspada, 2010.)

B.   Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut

Menurut Hafizurrahman ( 2004 ), kepuasan pasien dari pengguna jasa pelayanan kesehatan dapat dilihat dari lima dimensi, yaitu meliputi :

1. Sarana Fisik

Pasien akan menggunakan indra penglihatan untuk menilai pelayanan, seperti menilai gedung, peralatan, kebersihan. kerapian.

2. Kehandalan

Dimensi yang mengukur kehandalan pelayanan yang diberikan kepada pasien. Pertama, kemampuan dalam memberikan pelayanan seperti yang dijanjikan. Kedua, seberapa jauh dan mampu memberikan pelayanan yang akurat.

3. Ketanggapan

Dimensi ketanggapan merupakan dimensi yang paling dinamik. Harapan pasien akan kecepatan pelayanan hampir dapat dipastikan akan berubah dengan kecenderungan naik dari waktu ke waktu.

4.  Jaminan / keyakinan

Dimensi jaminan atau keyakinan merupakan dimensi yang berhubungan dengan kemampuan pelayanan dan prilaku dalam menanamkan rasa percaya dan keyakinan pada pasiennya.

Keramahan atu kenikmatan berkaitan dengan pelayanan kesehatan yang tidak berhubungan langsung dengan efektifitas klinik, tetapi dapat mempengaruhi kepuasan pasien dan kebersediannya untuk kembali kefasilitas kesehatan untuk memperoleh pelayanan berikutnya.

5.  Kepedulian

Perlakuan yang bersifat pribadi pada pengguna jasa layanan, seperti kemampuan untuk memahami keinginan dan kebutuhan pasien atau pengguna jasa layanan.

Faktor utama yang mempengaruhi prilaku pengguna jasa pelayanan kesehatan adalah faktor budaya yang terdiri atas budaya khusus, kelas social, kelompok social, serta keluarga. Faktor kedua adalah faktor psikologis yang terdiri atas motivasi, persepsi, proses belajar, kepercayaan dan sikap. ( Hafizurrahman, 2004 ).

Dalam memberikan pelayanan diperlukan tenaga kesehatan. Adapun tenaga kesehatan gigi dan mulut yang terdapat disuatu tim kesehatan yaitu dokter gigi dan perawat gigi, dimana masing-masing mempunyai peran dan fungsi yang berbeda. Didalam tim kesehatan gigi dan mulut, dokter gigi bertindak sebagai pemimpin. Dokter gigi adalah tenaga kesehatan akademik professional sesuai dengan pendidikannya. Perawat gigi sesuai dengan pengetahuannya dan kemampuan profesionalnya berfungsi memberikan pelayanan asuhan kesehatan 9 perawatan ) gigi dan mulut kepada individu, keluarga dan masyarakat.

Tindakan yang dilakukan oleh tenaga perawat gigi adalah dalam bentuk upaya promotif dan preventif serta membantu upaya kuratif dan rehabilitative. Didalam tim kesehatan gigi, tenaga ini bertindak sebagai mitra dokter gigi. Sedangkan didalam tim keperawatan gigi, tenaga ini dapat berperan sebagai pemimpin tim. ( Syahlan, 1999 ).

Seperti yang dijelaskan dalam Peraturan perundang-undangan No. 32 Tahun 1996 tenaga kesehatan terdiri dari tenaga medis, tenaga keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga gizi, tenaga keterapian fisik, dan tenaga keteknisian medis. Jika diperhatikan, peraturan ini kurang rinci menyebutkan tenaga kesehatan yang ada. Seperti tenaga perawat gigi tidak jelas letaknya apakah pada kelompok tenaga keperawatan atau kelompok tenaga keterapian fisik. Disamping itu, peraturan ini tidak cukup prediktif untuk menampung tenaga kesehatan baru yang akan berkembang dimasa depan seperti ahli asuransi kesehatan, ahli perencanaan kesehatan, serta ahli kesehatan dan keselamatan kerja.( Wiku Sasmito, 2007 )

C.     PUSKESMAS

1. Pengertian Puskesmas

Menurut Azwar ( 1996 ), puskesmas ialah suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran serta masyarakat dalm bidang kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh, terpadu serta berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah tertentu.

Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi fungsional yang langsung memberikan pelayanan kesehatan secara meyeluruh kepada masyarakat dalam satu wilayah kerja tertentu dalam bentuk usaha-usaha kesehatan pokok. ( Entjang, 2000 ).

2. Fungsi Puskesmas

Sebagai pusat pengembangan kesehatan, pembinaan peran serta masyarakat serta pelayanan kesehatan masyarakat. Puskesmas berfungsi melakukan kegiatan sebagai berikut :

  • Mendorong masyarakat untuk mengenal masalah kesehatan.
  • Member petunjuk kepada masyarakat tentanng cara memanfaatkan sumber daya setempat yang ada secara berdaya guna dan berhasil guna.
  • Member bantuan yang bersifat tekhnis, bahan-bahan serta rujukan kepada masyarakat.
  • Mengadakan kerja sama  dengan sektor lain yang terkait.
  • Memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat dalam bentuk kegiatan pokok. ( Herijulianti, 2002 ).

3. Tujuan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas

a. Terhindarnya dan berkurangnya gangguan fungsi kunyah akibat kerusakan fungsi gigi.

b. Meningkatkan kesadaran sikap dan prilaku masyarakat dalam kemampuan pelihara diri dibidang kesehatan gigi dan mulut.

c. Menurunkan prevalensi penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita masyarakat ( karies dan penyakit periodontal ) dengan upaya perlindungan khusus tanpa mengabaikan upaya penyembuhan dan pemulihan terutama pada kelompok yang renan terhadap karies. ( Herijulianti, 2002 ).

Kegiatan pelayanan kesehatan gigi di puskesmas pada dasarnya dibagi tiga kegiatan, yaitu :

1. Kegiatan Promotif

Kegiatan promotif adalah salah satu kegiatan untuk meningkatkan kemampuan pelihara diri masyarakat dibidang kesehatn gigi dalam rangka tercapainya perilaku hidup sehat, misalnya dengan jalan memberikan penyuluhan kesehatan gigi.

2. Kegiatan Preventif

Kegiatan preventif yaitu suatu usaha kegiatan untuk memberikan perlindungan khusus untuk memperkuat gigi dan jaringan penyangga.

Misalnya : –     Menyikat Gigi –       Pembersihan karang gigi  –       Pemberian fluor

3. Kegiatan Kuratif

Kegiatan kuratif adalah suatu usaha yang  dilakukan untuk dapat menyembuhkan orang sakit.

Misalnya : –     Penambalan –       Pencabutan

Penyelenggaraan pelayanan kesehatan gigi dipuskesmas merupakan upaya kesehatan yang diselenggarakan secara meneluruh, terpadu, merata dan meliputi upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan, yang ditujukan pada semua golongan umur maupun jenis kelamin dengan menitikberatkan pada pelayanan untuk masyarakat luas, guna mencapai derajat kesehatan yang optimal tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan. ( Herijulianti, 2002 ).

About these ads

Perihal andiagussalim
1. Pusat Rental Komputer & Jasa Pengetikan 2. Percetakan 3. Penerbitan 4. Fotography & Videography Lokasi : Jln. Wijaya Kusuma Raya No. 62 Banta-bantaeng Makassar 90222

Komentar :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s