KTI Kesehatan Gigi – Hubungan Merokok dengan Tingkat Keparahan Penyakit Periodontal

Tulisan lengkap dalam bentuk word….GRATIS…  silahkan klik link (judul yang berwarna biru dan bergaris bawah) berikut ini untuk mengambil datanya (mendownload):  KTI Kesehatan Gigi – Hubungan Merokok dengan Tingkat Keparahan Penyakit Periodontal

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.   Gambaran Umum Rokok

Rokok merupakan silinder dari kertas berukuran panjang sekitar 12 cm dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan di biarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lain (Mejikuhibiniu, 2007 ).

Asap rokok tembakau mengandung gas dan bahan-bahan kimia yang bersifat racun dan atau karsiogenik. Komposisi kimia dari asap rokok tergantung pada jenis tembakau, disain rokok, seperti ada tidaknya filter, bahan-bahan tambahan, dan sebagainya, pola merokok dari individu. Satu batang rokok yang dibakar atau disulut dihasilkan kira-kira 500 mg gas (92 %) dan bahan-bahan partikel padat (8 %), sebagian besar dari fase gas adalah karbondioxida, oksigen dan hidrogen. Meskipun persentase karbondioxida rendah, tetapi ia cukup menaikkan tekanan darah secara bermakna yang berakibat akan berpengaruh pada sistem pertukaran hemoglobin. Tar berkisar antara < 1 – 35 mg dan dalam kelompok ini terdapat bahan karsinogen yang paling paten. Sedangkan kandungan nikotin berkisar dari < 1 – 3 mg, mempunyai efek pharmakologis yang mendorong faktor ketergantungan psikis, yang merupakan suatu sebab mengapa seorang perokok sulit untuk berhenti merokok ( Ruslan G, 2006 ).

1.    Nikotin     

Nikotin adalah suatu bentuk cairan berminyak  tidak berwarna.Zat ini bisa menghambat rasa lapar, maka menyebabkan seseorang merasa tidak lapar karena mengisap rokok. Zat ini juga dapat membuat kecanduan dan dapat mempengaruhi sistem syaraf, mempercepat detak jantung (melebihi detak normal),sehingga menambah resiko terkena penyakit jantung.

2.    Tar

Tar adalah cairan kental berwarna coklat tua atau hitam didapatkan dengan cara distilasi kayu dan arang juga dari getah tembakau.Zat inilah yang menyebabkan kanker paru-paru. Racun kimia dalam tar juga dapat meresap kedalam aliran darah dan kemudian dikeluarkan di urin. Tar yang tersisa di kantung kemih juga dapat menyebabkan penyakit kanker kantung kemih.

3.     Karbon Monoksida    

Karbon Monoksida merupakan gas yang tidak berbau, zat ini dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna dari unsur zat karbon. Jika karbon monoxida ini masuk kedalam tubuh dan dibawa oleh hemoglobin kedalam otot-otot tubuh. Zat ini  juga dapat meresap dalam aliran darah dan mengurangi kemampuan sel-sel darah merah untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh, sehingga sangat besar pengaruhnya terhadap system peredaran darah. Selain itu,karbon monoksida memudahkan penumpukan zat-zat penyumbat pembuluh nadi, yang dapat menyebabkan serangan jantung yang fatal, juga dapat menimbulkan gangguan sirkulasi darah dikaki.

Kandungan ketiga zat berbahaya didalam rokok tersebut memang berbeda-beda untuk setiap merek rokok, tetapi mengganti merek rokok yang di hisap bukanlah cara yang efektif untuk mengurangi resiko yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan merokok. Cara terbaik untuk menghindari rokok adalah dengan berhenti merokok dan jika perokok berhasil berhenti merokok maka peluang terjadinya gangguan-gangguan kesehatan seperti diatas akan semakin mengecil setiap tahunnya (Kurniawan, 2009).

B.   Gambaran Umum Jaringan Periodontal

Periodontal merupakan jaringan yang menyangga/pendukung gigi rahang atas dan rahang bawah. Jaringan periodontal terdiri dari empat komponen panting yaitu : (1) Gingiva, (2) Ligament periodontal, (3) Sementum, (4) Tulang alveolar. Pengetahuan tentang periodontal dalam keadaan sehat penting untuk mengenal perjalanan penyakit (Manson,1993).

1.    Gingiva

Secara awam lebih dikenal dengan istilah gusi.Jaringan gingiva berjalan melapisi tonjolan alveolar dan berakhir pada leher gigi.

Gingiva yang sehat biasanya berwarna merah muda, tergantung etnis individu. Makin gelap kulit seseorang, makin gelap pula warna merah gingivanya. Konsistensinya padat dan melekat pada tulang alveolar di bawahnya. (Pratiwi, Prosto. 2007)

Pembagian gingival adalah sebagai berikut:

a. Marginal gingiva

Yaitu  merupakan bagian dari gingiva yang mengelilingi leher gigi, yang terletak dibagian labial,bukal,dan lingual.

b. Attached gingiva

yaitu merupakan bagian dari gingiva yang melekat pada gigi atau prosesus alveolaris yang memberikan texture (bentuk).

c. Interdental gingival

Yaitu merupakan bagian gingival yang memenuhi  interproximal space ( ruang antar dua gigi ).

d. Sulkus gingival

Yaitu merupakan ruang antara gingiva dan gigi yang pada keadaan normal mempunyai kedalaman kurang lebih 2 mm (Depkes,1996).

Gambaran klinis gingiva normal yaitu :

a. Warna

Gingiva normal berwarna merah muda, tetapi banyak bervariasi untuk tiap-tiap orang. para penduduk Afrika dan Asia adalah normal.

b. Ukuran

Adanya pertambahan ukuran gingiva merupakan tanda adanya penyakit periodontal.

c.  Kontur

Istilah ini mengacu khususnya untuk penampakan festoon gingiva.

d. Konsistensi

Pada keadaan yang sehat, konsistensi gingiva kenyal dan melekat erat pada tulang di bawahnya. (Fedi,dkk.2004).

2.    Ligamen Periodonsium

Ligamen periodonsium terdiri atas serabut jaringan ikat berkolagen, berwarna putih, yang mengelilingi akar gigi dan melekat ke prosesus alveolar. Serabut elastis yang terdapat pada ligamen ini relatif sedikit. Elastisitas yang terjadi adalah hasil dari konfigurasi bergelombang serabut principal, yang memungkinkan adanya sedikit pergerakan saat gigi berada di bawah tekanan (Fedi, dkk.2004).

Fungsi legamen periodonsium adalah :

  1. Memelihara aktivitas biologik sementum dan tulang
  2. Mensuplai nutrisi dan membersihkan produk sisa melalui aliran darah dan limfe
  3. Memelihara relasi gigi terhadap jaringan keras dan lunak
  4. Menghantarkan tekanan dan sensasi nyeri melalui jalur trigeminal. Rasa mengenai lokasi di rongga mulut diteruskan melalui ujung saraf proprioseptif (Fedi, dkk.2004).

3.    Sementum

Sementum berasal dari jaringan mesoderm, yaitu susunan dan asal yang sama dengan jaringan tulang. Sementum memiliki kemampuan untuk melakukan regenerasi bila dihubungkan dengan jaringan pendukung gigi, sama halnya dengan dentin. Tetapi perbedaan antara dentin dan sementum secara kimia, dentin lebih keras dari sementum, karena dentin lebih banyak mengandung bahan kimia anorganik 69 persen (Pratiwi, Prosto. 2007).

Sementum merupakan lapisan terluar pada akar gigi yang membatasi gigi dengan jaringan pendukungnya. Bahan anorganik pada sementum sama dengan tulang yaitu 40 persen. Bila terjadi rangsangan yang kuat pada gigi maka akan terjadi Resorpsi/penyerapan sel sementum pada sisi yang terkena rangsang, dan pada sisi yang berlawanan terbentuk sementum baru (Pratiwi, Prosto. 2007).

Fungsi utama sementum  adalah :

  1. Menahan gigi pada soker tulang dengan perantaraan serabut principal ligamen periodonsium
  2. Mengkompensasi keausan struktur gigi karena pemakaian dengan pembentukan terus-menerus
  3. Memudahkan terjadinya pergeseran mesial fisiologis
  4. Memungkinkan penyusunan kembali serabut ligamen periodonsium secara terus-menerus (Fedi, dkk.2004).

4.    Tulang alveolar

Tulang alveolar merupakan penyangga gigi yang utama. Ketebalan dan ketinggian tulang alveolar bervariasi tergantung dari ada tidaknya gigi yang disangga. Jika gigi sudah dicabut dan tidak diganti, maka tulang alveolar akan menipis dengan sendirinya. Demikian pula apabila gigi mengalami trauma atau tekanan yang berlebihan maka tulang alveolar di sekitarnya pun akan terkikis (Pratiwi, Prosto. 2007).

Dengan berkurangnya tinggi tulang alveolar, gigi akan terlihat memanjang atau seolah-olah keluar dari tempatnya. Contohnya gerakan perawatan ortodontik yang terlalu kuat. Makanan yang terlalu keras atau posisi gigi yang tidak baik akan menimbulkan beban yang tidak dapat teratasi lagi oleh tulang alveolar. Karena itu tulang alveolar bersifat aktif dengan adanya proses pembentukan secara kontinu (Pratiwi, Prosto. 2007).

Berdasarkan fungsi dan adaptasinya, tulang alveolar dapat dibagi menjadi 2 bagian :

a. Tulang alveolar propium

Yaitu lapisan tipis tulang yang mengelilingi akar dan memberikan tempat perlekatan bagi ligamen periodonsium.

b.  Tulang alveolar pendukung

Yaitu bagian prosesus alveolar yang mengelilingi tulang alveolar

(Fedi, dkk.2004).

C.   Penyakit –Penyakit  Jaringan Periodontal

Penyakit periodontal dapat didefinisikan sebagai proses patologis yang mengenai jaringan periodontal.Sebagian besar penyakit periodontal disebabkan oleh infeksi bakteri .Walaupun factor-faktor lain dapat memengaruhi jaringan periodontal,penyebab utama penyakit periodontal adalah mikroorganisme.yang melekat dipermukaan gigi ( plak bakteri dan produk-produk yang dihasilkannya).menggambarkan interaksi factor-faktor yang menyebabkan penyakit periodontal.Beberapa kelainan sistemik dapat berpengaruh buruk terhadap jaringan periodontal,tetapi factor sistemik semata tanpa adanya plak bakteri  tidak dapat menjadi penyebab terjadinya penyakit periodontitis (Fedi,dkk.2004).

Penyebab-penyebab lain dari penyakit periodontal adalah berbagai macam factor risiko seperti factor sosial dan perilaku faktor sistemik,dan keaadaan gigi,dan lain-lain.Dengan memahami pathogenesis penyakit periodontal berdasarkan berbagai macam penyebabnya.(Mustaqimah,2003).

1.    Gingivitis

Gingivitis adalah inflamasi gingiva.pada kondisi ini tidak terjadi kehilangan perlekatan.Pada pemeriksaan klinis terdapat gambaran kemerahan di margin gingiva,pembengkakan dengan tingkat yang bervariasi,perdarahan saat probing dengan tekanan ringan dan perubahan bentuk gingival.Terlihat penambahan kedalaman  probing.Biasanya pada gingivis tidak ada rasa sakit (Fedi,dkk.2004).

2.    Periodontitis

Periodontitis adalah inflamasi jaringan periodontal yang ditandai dengan migrasi epitel jungsional ke apikal, kehilangan perlekatan dan puncak tulang alveolar. Pada pemeriksaan klinis terdapat peningkatan kedalaman probing, perdarahan saat probing (di tempat aktifnya penyakit) yang dilakukan dengan perlahan dan perubahan kontur fisiologis. Dapat juga ditemukan kemerahan dan pembengkakan gingiva. Biasanya tidak ada rasa sakit.

Klasifikasi periodontitis meliputi periodontitis dewasa kronis,periodontitis Refraktori,Gingivo-periodontitis ulseratif nekrosis,

a. Periodontitis Dewasa kronis

Yaitu tipe periodontitis yang biasanya berjalan lambat,terjadi pada usia 35 tahun keatas.Kehilangan tulang berkembang lambat dan didominasi oleh bentuk horizontal.Faktor etiologi utama adalah factor local terutama bakteri.Penyakit periodontal ini adalah tipe yang paling sering terjadi dan disertai kehilangan tulang.

b. Periodontitis awitan dini

Yaitu penyakit yang biasanya dimulai sekitar masa puberitas hingga 35 tahun.Ditandai dengan resobsi tulang alveolar yang hebat,mengenai hamper seluruh gigi.Bentuk kehilangan tulang yang terjadi vertical atau horizontal,atau kedua-duanya.

c. Periodontitis refraktori

Yaitu kondisi dimana beberapa daerah pda rongga mulut pasien memperlihatkan kehilangan perlekatan yang berlanjut,walaupun telah dilakukan terapi periodontal yang biasa.Sesuai perawatan,daerah yang terkena teyap terinfeksi oleh bakteri.

d. Gingivo-periodontitis ulseratif nekrosis

Yaitu bentuk periodontitis yang biasanya terjadi setelah episode berulang dari gingivitis  jangka lama ,yang tidak dirawat atau dirawat tetapi tidak tunta.Efek buruk yang terjadi berulang-ulang pada jaringan periodontal,menyebabkan kerusakan jaringan interproksimalmembentuk lesi ,baik pada jaringan lunak maupun tulang alveolar.Periodontitis ini memerlukan perawatan yang sulit (Fedi,dkk.2004).

D.Efek Merokok Terhadap Jaringan Periodontal

Perubahan mukosa akibat merokok sangat bervariasi. Perubahan tersebut akibat iritan, toksin, dan karsinogen yang berasal dari rokok. Selain itu, dapat juga berasal dari efek mukosa yang kering, tingginya temperatur dalam mulut atau resistensi terhadap infeksi jamur dan virus yang berubah. Masalah kesehatan mulut lainnya yang dapat timbul antara lain hilang atau berkurangnya indera peserta dan penciuman, bau mulut, pewarnaan pada gigi, serta beragam penyakit periodontal lainnya (Dewi,2005).

Merokok dapat memperburuk status kebersihan mulut   seseorang individual dan bersama-sama dengan kebersihan gigi dan  mulut yang buruk, ia bertindak sebagai kofaktor untuk terjadinya  penyakit gingivitis dan periodontitis.

Kandungan asap rokok tembakau terdiri dari gas dan bahan-bahan kimia yang bersifat toksik dan atau karsinogenik.Merokok juga dapat menimbulkan efek yang merugikan pada jaringan didalam rongga mulut,di samping kesehatan secara umum (Ruslan,1993).

Kebiasaan menggunakan tembakau harus dihilangkan secara total karena berbagai penyakit berbahaya yang dapat ditimbulkannya.Sebagai seorang dokter gigi perlu turut aktif mencegah penyakit akibat kebiasaan merokkok,dengan memberikan peyuluhan kepada masyarakat ,meningkatkan pengetahuan dan teknik untu k mendeteksi dini kanker rongga mulut dan keahlian untuk perawatan lebih lanjut (Dewi,2005).

About these ads

Perihal andiagussalim
1. Pusat Rental Komputer & Jasa Pengetikan 2. Percetakan 3. Penerbitan 4. Fotography & Videography Lokasi : Jln. Wijaya Kusuma Raya No. 62 Banta-bantaeng Makassar 90222

One Response to KTI Kesehatan Gigi – Hubungan Merokok dengan Tingkat Keparahan Penyakit Periodontal

  1. zul mengatakan:

    terimakasih………………… lumayan membantu

Komentar :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s