Skripsi FMIPA – Analisis Kadar Asam Salisilat dalam Krim Anti Jerawat yang Beredar Secara Spektrofotometri UV-VIS

Tulisan lengkap dalam bentuk word …  silahkan klik :
Skripsi FMIPA – Analisis Kadar Asam Salisilat dalam Krim Anti Jerawat yang Beredar Secara Spektrofotometri UV-Vis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.   Uraian tentang kosmetik

1.    Pengertian Kosmetika (Wasitaatmadja M.S, 1997)

   Kosmetika berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti ”berhias”. Bahan yang dipakai dalam usaha mempercantik diri ini, dahulu diramu dari bahan-bahan alami yang terdapat disekitarnya. Sekarang kosmetika dibuat manusia tidak hanya dari bahan alami tetapi juga bahan buatan untuk maksud meningkatkan kecantikan.

     Kosmetika merupakan komoditi yang mempunyai kesan kurang berbahaya di banding dengan obat sehingga pembuatanya, pemasaran atau pengawasannya mempunyai tata cara yang lebih mudah dibandingkan dengan obat.

    Kosmetika adalah bahan atau campuran bahan yang dikenakan pada kulit manusia untuk membersihkan, memelihara, menambah daya tarik serta mengubah rupa, karena terjadi kontak antara kosmetik dengan kulit, maka ada kemungkinan kosmetik diserap oleh kulit dan masuk ke bagian yang lebih dalam dari tubuh. Kontak kosmetika dengan kulit menimbulkan akibat positif berupa manfaat kosmetik, dan akibat negatif atau merugikan berupa efek samping kosmetik.

2.    Uraian Krim

Krim didefenisikan sebagai cairan kental atau emulsi setengah padat baik bertipe air dalam minyak atau minyak dalam air. Krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi yang mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Ada dua tipe krim, krim tipe minyak dalam air  ( M/A) dank rim tipe air dalam minyak ( A/M). Istilah krim secara luas digunakan dalam farmasi dan industri kosmetik.

 Krim biasa digunakan sebagai emolien atau pemakaian obat pada kulit atau skin care dan perawatan pada rambut atau hair care. (Depkes RI., 1979, Ansel,C,H.,2005 dan Syarifah., 2007).

3.    Uraian Jerawat ( Wasitaatmadja M.S, 1997 )

    Jerawat merupakan salah satu penyakit umum di dunia. Jerawat adalah penyakit kulit akibat peradangan menahun dari folikel  pilosebasea yang ditandai dengan adanya erupsi komedo, papul, pustule, nodus dan kista pada tempat predileksi : muka, leher, lengan atas, dada, dan punggung. Jerawat disebabkan oleh aktivitas kelenjar minyak  di bawah kulit yang memproduksi minyak secara berlebihan dan bersama sel-sel kulit mati yang menutupi pori-pori. Hal ini mengundang bakteri sehingga mengakibatkan peradangan atau inflamasi. Aktivitas kelenjar minyak meningkat karena adanya rangsangan hormon-hormon yang mulai aktif selama pubertas.

Ada empat hal penting yang berhubungan dengan terjadinya akne :

  1. Kenaikan ekskresi sebum
  2. Adanya keratenisasi folikel
  3. Bakteri
  4. Peradangan ( Inflamasi )

               Usaha pengobatan akne dapat dilakukan dengan cara topikal, sistemik dan   pengobatan bedah bila diperlukan.

1. Pengobatan topikal

Prinsip pengobatan topikal adalah mencegah pembentukan komedo, menekan peradangan dan mempercepat penyembuhan akne. Obat topikal terdiri dari :

1)    Bahan iritan / pengelupas, misalnya sulfur ( 4-8%), resorsinol ( 1-5% ), Asam salisilat ( 2-5% ), Benzoil peroksida ( 2,5-10% ), asam vitamin A ( 0,025-0,1% ), dan asam aseleat       ( 15-20% ). Efek samping obat iritan dapat dikurangi dengan pemakaian hati-hati yang dimulai dari konsentrasi yang paling rendah.

2)    Bahan lain, misalnya kortikosteroid topikal atau suntukan intralesi dapat dipakai untuk mengurangi radang yang terjadi

2. Pengobatan sistemik

                  Pengobatan yang sistemik ditujukan terutama untuk menekan aktivitas jasad renik di samping dapat juga menekan reaksi radang, menekan produksi sebum dan mempengaruhi keseimbangan hormonal. ( Wasitaatmadja M.S, 1997 dan www.blogspot.com tanggal 08 februari 2009 ).

B.   Uraian Tentang Kulit (Harahap, M., 2000)

1.     Pengertian kulit

            Kulit merupakan pembungkus yang elastis yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan. Kulit juga merupakan alat tubuh yang terberat dan terluas ukurannya, yaitu 15% dari berat tubuh dan luasnya 1,50-1,75 m2. Rata-rata tebal kulit 1-2 mm. Paling tebal

( 6mm ) terdapat ditelapak tangan dan kaki dan paling tipis ( 0,5 mm) terdapat di penis.

2.     Susunan kulit manusia

            Kulit terbagi atas 3 lapisan pokok, yaitu epidermis, dermis atau korium dan jaringan subkutan atau subkutis.

a. Epidermis

Epidermis terdiri dari empat lapisan yaitu:

1)    Lapisan basal atau stratum germinativum

Lapisan basal terdiri dari satu lapis sel-sel yang kuboid yang tegak lurus terhadap dermis. Lapisan basal merupakan lapisan paling bawah dari epidermis dan berbatas dengan dermis.

2)    Lapisan malpighi atau stratum spinosum

Lapisan malpighi merupakan lapisan epidermis yang paling tebal dan kuat.

3)    Lapisan granular atau stratu granulosum

Lapisan granunal terdiri dari satu sampai empat baris sel-sel berbentuk intan, berisi butir-butir (granul) keratohilialin yang basofilik.

4)    Lapisan tanduk atau stratum korneum

Lapisan tanduk korneumterdiri dari 20-25 lapis sel-sel tanduk tanpa inti, gepeng, tipis dan mati.

b. Dermis

      Dermis atau korium merupakan lapisan dibawah epidermis dan diatas lapisan subkutan. Dermis terdiri dari jaringan ikat yang dilapisan atas terjalin rapat ( Pars papillaris), Sedangkan dibagian bawahnya terjalin lebih longgar ( pars reticularis ).

c.  Jaringan subkutan ( Subkutis atau hipodermis )

      Jaringan subkutan merupakan lapisan yang langsung di bawah dermis. Batas antara jaringan subkutan dan dermis tidak tegas. Sel-sel yang terbanyak adalah lopisit yang menghasilkan banyak lemak.

3.    Fungsi kulit

   Kulit mempunyai fungsi bermacam-macam untuk menyesuaikan tubuh dengan lingkungan. Fungsi kulit adalah sebagai :

  1. Pelindung
  2. Pengatur suhu
  3. Penyerap
  4. Indera perasa
  5. Faal pergetahan ( Faal sekretoris )

C.   Uraian Tentang Asam Salisilat

1.    Sifat asam salisilat

     Secara kimia asam salisilat disintesis pada tahun 1860 dan telah di gunakan secara luas dalam terapi dermotologis sebagai suatu agen keratolitik. Digunakan pada bagian luar tubun yang pada kulit sebagai antiseptik lemah serta keratolitikun (melarutkan sel-sel kulit mati). Agen ini berupa bubuk berwarna putih yang mudah larut dalam alkohol tetapi sukar larut dalam air. Asam salisilat merupakan zat anti akne sekaligus keratolitik yang lazim diberikan secara topikal. Penggunaanya dalam kosmetik anti akne atau karatolitik merupakan usaha untuk meningkatkan kemampuan kosmetika tersebut umpamanya dalam kosmetika perawatan kulit yang berjerawat. Asam salisilat berkhasiat keratolotis dan sering digunakan sebagai obat ampu terhadap kutil kulit, yang berciri penebalan eidermis setempat dan disebabkan oleh infeksi dengan virus papova. Asam salisilat sangat iritatif, sehingga hanya digunakan sebagai obat luar. Derifatnya yang dapat dipakai secara sistemik adalah ester salisilat dan asam organik dengan subtitusi pada gugus hidroksil misalnya asetosal.

( Katzung, B. G., 2004, Gennaro, A. R., 1990, Wasitatmadjo M.S.1997 Tjay, H, T., 2005,  dan Ganiswara.,S.1995 )

2.    Kegunaan asam salisilat

     Asam salisilat dapat digunakan untuk efek keratolitik yaitu akan mengurangi ketebalan interseluler dalam selaput tanduk dengan cara melarutkan semen interseluler dan menyebabkan desintegrasi dan pengelupasana kulit. Asam organis ini berkhasiat fungisit terhadap banyak fungi pada konsentrasi 3-6% dalam salep. Di samping itu, zat ini juga bekerja keratolitis, yaitu dapat melarutkan lapisan tanduk kulit pada konsentrasi 5-10%.                 ( Anief.,M.,1997 dan Tjay, H, T., 2002)

3.    Toksisitas asam salisilat

            Salisilat sering digunakan untuk mengobati segala keluhan ringan dan tidak berarti sehingga banyak terjadi penggunasalahan atau penyalahgunaan obat bebas ini. Keracunan salisilat yang berat dapat menyebabkan kematian, tetapi umumnya keracunan salisilat bersifat ringan. Gejala saluran cerna lebih menonjol pada intoksikasi asam salisilat. Efek terhadap saluran cerna, perdarahan lambung yang berat dapat terjadi pada dosis besar dan pemberian contoh kronik. Salisilisme dan kematian terjadi setelah pemakaian secara topikal. Gejala keracunan sistemik  akut dapat terjadi setelah penggunaan berlebihan asam salisilat di daerah yang luas pada kulit, bahkan sudah terjadi beberapa kematian. Pemakaian asam salisilat secara topikal pada konsetrasi tinggi juga sering mengakibatkan iritasi lokal, peradangan akut, bahkan ulserasi. Untuk mengurangi absorpsinya pada penggunaan topikal maka asam salisilat tidak digunakan dalam penggunaan jangka lama dalam konsentrasi tinggi, pada daerah yang luas pada kulit dan pada kulit rusak.   (Katzung, B. G., 2004, Gennaro, A. R., 1990, Ganiswara, S., 1995)

            Persyaratan kadar asam salisilat dalam krim anti jerawat berdasarkan Surat keputusan Kepala Badan POM RI No. HK.00.05.4.1745 tanggal 5 Mei 2003 yaitu tidak boleh lebih dari 2%.

 D.   Uraian Spektrofotometri UV-Vis

Spektrofotometri adalah cabang analisis instrumental yang mencakup seluruh metoda pengukuran berdasarkan interaksi antara suatu spektrum sinar (Radiasi Elektro Magnetik/REM) dengan larutan molekul  atau atom. Spektrofotometri uv-vis melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri uv-vis lebih banyak dipakai untuk analisis, sehinga spektrofotometri uv-vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibanding kualitatif. ( Suharman, 1995 dan Depkes RI, 1995)

1. Prinsip dasar

Apabila radiasi elektromagnetik pada daerah ultraviolet dan sinar tampak melalui senyawa yang memiliki ikatan-ikatan rangkap, sebagian dari radiasi biasanya diserap oleh senyawa. Jumlah radiasi yang diserap tergantung pada panjang gelombang radiasi dan struktur senyawa. Penyerapan seinar radisi disebabkan oleh pengurangan energi dari sinar radiasi pada saat elektron-elektron dalam orbital berenergi rendah tereksitasi ke orbital berenergi lebih tinggi.

Ada empat kemungkinan radiasi elektromagnetik pada molekul atau atom akan mengalami perubahan energi eksitasi yang dikenakan dengan : energi translasi, energi rotasi, energi vibrasi, dan energi elektronik. Radiasi cahaya UV-Vis pada molekul atau atom akan menyebabkan energi elektronik, oleh sebab itu spektra UV-Vis disebut juga spektra elektronik sebagai akibat transisi antara dua tingkat energi elektron dari molekul atau atom.       (Mulia, M., Achmad S., 1990).

Hubungan antara kadar dengan intensitas sinar yang diserap oleh sampel yang di analisis dinyatakan oleh hukum  Lambert-Berr dalam bentuk persamaan sebagai berikut : (Sediaoetama, 1987)

            Log Io/I = A=a.b.C

            Dimana:

                              Io= intensitas sinar sebelum melewati sampel
I = intensitas sinar setelah melewati sampel
A   = absorban
a = absopsifitas molekul
b = ketebalan kuvet
C   = konsentrasi larutan

  Oleh karena a dan b nilainya tetap (wadah yang dipakai spesifik), maka A berbanding llurus  dengan C (konsentrasi larutan). Dalam penurunan hukum ini dianggap bahwa, (1) radiasi yang masuk adalah monokromatik, (2) spesies penyerap berkelakuan tidak tergantung satu terhadap lainnya dalam proses penyerapan, (3) penyerapan terjadi dalam volume yang mempunyai luas penampang yang sama, (4) dengan radiasi tenaga  adalah cepat (tidak terjadi fluorosensi), dan (5) indeks bias tak tergantung pada konsentrasi (tidak berlaku pada konsentrasi yang tinggi). (Sastrohamidjojo, H., 1985 )

 Spektrofotometer UV-Vis mempunyai keuntungan yaitu mengadakan interaksi (serapan) yang selektif dan karakteristik terhadap gugus-gugus dalam molekul-molekul yang sangat kompleks.

 2. Serapan oleh Senyawa

Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum ultraviolet dan terlihat tergantung pada struktur elektronik dari molekul. Spektra ultraviolet dan visible dari senyawa-senyawa organik berkaitan erat transisi-transisi diantara tingkatan-tingkatan tenaga elektronik. Oleh karena itu, serapan radiasi ultraviolet/visible sering dikenal sebagai spektroskopi elektron. Transisi-transisi biasanya antara orbital ikatan atau orbital pasangan bebas dan orbital non ikatan tak jenuh atau orbital anti ikatan. Panjang gelombang serapan merupakan ukuran dari pemisahan tingkatan-tingkatan tenaga dari orbital-orbital yang bersangkutan. Pemisahan tenaga yang paling tinggi diperileh bila elektron-elektron dalam ikatan-p tereksitasi yang menimbulkan serapan dala daerah dari 120 sampai 200 nm. Daerah ini dikenal sebagai daerah ultraviolet vakum dan relatif tidak kebanyakan memberikan keterangan. Diatas 200 nm, eksitasi elektron dari orbital-orbital p dan d dan orbital p terutama sistem terkonjugasi -p segera dapat diukur dan spektrum yang diperoleh memberikan banyak keterangan. Meskipun demikian, terd apat keuntungan yang selektif dari serapan ultraviolet yaitu gugus-gugus karasteristik dapat dikenal dalam molekul yang relatif kompleks. Sebagian besar dari molekul-molekul yang sangat kompleks mungkin transparan dalam ultraviolet sehingga kita mungkin memperoleh spektrum yang semacam dari molekul yang sederhana.  (Mulia, M.,Achmad S.,1990)

       Spektrum ultaviolet adalah gambar antara panjang gelombang atau transisi serapan lawan intensitas serapan (transmitasi atau absorbansi). Sering juga data ditunjukkan sebagai gambar grafik atau tabel yang menyatakan panjang gelombang lawan serapan molar atau log dari serapan molar.  (Mulia, M.,Achmad S.,1990)

Tahapan-tahapan untuk Analisis Kuantitati

Pemilihan pelarut

                               Pelarut yang digunakan pada spektofotometer UV-Vis harus memenuhi persyaratan yaitu tidak mengabsorpsi radiasi pada panjang gelombang pengukuran sampel. Oleh sebab itu, pelarut harus memenuhi persyaratan :

  1. Tidak mengandung sistem terkonjugasi pada struktur molekulnya atau tidak berwarna.
  2. Tidak berinteraksi dengan molekul senyawa yang diukur.
  3. Harus mempunyai kemurnian yang tinngi

Pemilihan panjang gelombang

            Pengukuran absorpsi pada analisis kuantitatif dengan metode  spektrofotometer baik zat tunggal maupun zat campur pada prinsipnya harus dilakukan pada panjang gelombang maksimum (l maks). Alasan dilakukan pengukuran absorpsi pada panjang gelombang maksimum adalah:

  1. Perubahan absorpsi untuk setiap satuan konsentrasi adalah paling besar pada panjang gelombang maksimal akan diperoleh kepekaan analisis yang maksimal.
  2. Di sekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva serapannya adalah datar, sehingga hukum Lambert-Beer akan dipenuhi dengan baik.
  3. Panjang gelombang maksimal dapat dicari dengan membuat kurva serapan dengan berbagai panjang gelombang pada sistem koordinat Cartesian pada konsentrasi yang tetap. Panjang gelombang masimum adalah panjang gelombang dimana terjadi serapan maksimum.
  4. Peralatan Spektrofofmeter

   Komponen-komponen pokok dari Spektrofotometer meliputi :

  1. Sumber tenaga radiasi yang stabil
  2. Sistem yang tediri atas lensa-lensa, cermin, cela-cela, dll.
  3. Monokromator untuk mengubah radiasi menjadi komponen-komponen panjang gelombang tunggal.
  4. Tempat cuplikan yang transparan
  5. Detektor radiasi yang dihubungkan dengan sistem meter atau pencatat.

     Uraian bagan spektrofotometri UV-Vis  (Satrohamidjojo, H, 1985) yaitu sebagai berikut :

  1. Sumber radiasi

            Sumber-sumber radiasi ultraviolet kebanyakan digunakan adalah lampu hidrogen dan lampu deuterium. Sumber radiasi cahaya tampak yang paling umum dipakai adalah lampu pijar tungsten. Lampu tungsten merupakan campuran dari filament tungstein dan gas iodine (halogen). Sumber radiasi ini dapat memancarkan radiasi kontinyu antara 380-780 nm.

Monokromator

            Monokromator merupakan serangkaian alat optic yang menguraikan radiasi polikromatik menjadi jalur-jalur yang efektif atau panjang gelombang-gelombang tunggalnya dan memisahkan panjang gelombang-gelombang tersebut menjadi jalur-jalur yang  sangat sempit.

Tempat cuplikan

            Culipkan yang dipakai pada daerah ultraviolet atau terlihat yang biasa berupa gas atau larutan ditempatkan dalam sel atau cuvet. Untuk daerah ultraviolet biasanya digunakan quartz atau sel dari silika yang lebur, sedangkan untuk daerah terlihat digunakan gelas biasa atau quarzt. Sel yang digunakan untuk cuplikan yang berupa gas mempunyai panjang lintasan dari 0,1 hingga 100 nm, sedangkan sel untuk larutan mempunyai panjang lintasan tertentu dari 1 hingga 10 cm.

Detektor atau pencatat

      Setiap detektor menyerap tenaga foton yang mengenainya dan mengubah tenaga tersebut untuk dapat diukur secara kualitatif seperti sebagai arus listrik atau perubahan-perubahan panas. Kebanyakan detektor menghasilkan  sinyal listrik yang dapat mengaktifkan meteran atau pencatat, setiap pencatat harus menghasilkan yang secara kualitatif berkaitan dengan tenaga cahaya yang mengenainya.

Penetapan Kadar Dengan Spektrofotometri

  Ada empat cara menentukan kadar zat tunggal dengan metode spektrofotometri:

  1. Membandingkan serapan atau transmisi zat yang dianalisis dengan zat murni. Dalam hal ini dilakukan pengukuran serapan zat (A X) serapan zat standar (A S), pada panjang gelombang yang sama yaitu l maks
  2. Dengan membuat kurva baku. Kurva baku dibuat pada sistem koordinat Carstein dimana sebagai absis adalah konsentrasizat standar, dan sebagai ordinat adalah serapannya. Pengamatan serapan dilakukan pada l maks.
  3. Dengan memakai sostem ekstingsi spesifik  . cara ini sebagai salah satu usaha analisis kuantitatif zat tunggal dengan metode spektrofotometri yang dalam hal ini tidak mempunyai  zat standar. Dengan jalan membandingkan  dari zat yang tertera dalam pustaka, maka kadar zat tersebut akan dapat diketahui.
  4. Dengan memakai nilai ekstingsi molar(e). Cara ini akan memberikan hasil yang lebih tepat dan pada prinsipnya sama dengan cara ketiga. Harga e  dapat dinyatakan sebagai:
  5. Kesalahan Pengukuran Secara Spektrofotometri

Pengukuran secara spektrofotometri dari konsentrasi zat berwarna didasarkan pada validitas hukum Lambert-Beer. Dampak praktek, hasil pengukuran memperlihatkan beberapa penyimpangan, diantaranya penyimpangan nyata dan aktual (sebenarnya). Penyimpangan nyata pada prinsipnya berasal dari ketidaksempurnaan. Penyimpangan ini disebabkan oleh ketidakmampuan monokromator untuk memberikan cahaya yang benar-benar monokromatis sehingga menyebabkan peristiwa seperti transmisi, pemantulan, dan serapan pada medium. Penyimpangan yang disebabkan oleh ketidaksemprnaannya caha monokromatik pada prinsipnya disebabkan oleh absorpsifitas yang berbeda sesuai dengan panjang gelombang dari sumber cahaya yang diserap atau tergantung dari spektrum serapannya. Sedangkan penyimpanan sebenarnya disebabkan oleh perubahan konsentrasi zat pengabsorpsi cahaya yang berlangsung akibat tercapainya kesetimbangan kimia dibawah pengaruh gaya interion atau intermolekul. Tetapi, ada kalanya dipengaruhi oleh rasio konsentrasi komponen berwarna dan tak berwarna dari larutan yang dianalisis.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan spektrofotometri uv-vis terutama untuk senyawa yang semula tidak berwarna yang akan dianalisis dengan spektrofotometri visibel, karena senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi senyawa yang berwarna. Berikut ini adalah tahap-tahap yang harus diperhatikan :

a. Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar uv-vis
b .Waktu operasional
c. Pemilihan panjang gelombang
d. Pembuatan kurva baku
e. Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan ( Gholib Gandjar, 2007)

Beberapa perbedaan yang juga merupakan keunggulan dari spektrofotometer uv-vis dibanding dengan spektrofotometer uv-vis yang lainnya adalah :

  1. Memakai sumber radiasi tunggal yaitu lampu D2 (Dauterium)
  2. Radiasi yang diukur adalah radiasi polikromatis, sehingga sampel kompartemen benda dalam keadaan terbuka
  3. ”Wavelenght reproducibility” karena tidak ada gerakan mekanisme untuk mengatur panjang gelombang.
  4. Kecepatan scanning, keseluruhan daerah pengukuran panjang gelombang sangat tinggi.

       Pada spektrofotometer uv-vis ada beberapa macam sumber radiasi yang dipakai yakni lampu deuterium, lampu tungsten dan lampu merkuri. Setiap bagian peralatan optik dari spektrofotometer uv-vis memegang fungsi dan peranan tersendiri yang saling terkait fungsi dan peranannya. Setiap fungsi da peranan tiap bagian dituntut ketelitian dan ketepatan yang optimal, sehingga akan diperoleh hasil pengukuran yang tinggi tingkat ketelitian dan ketepatannya. ( Suharman, 1995)

About these ads

Perihal andiagussalim
1. Pusat Rental Komputer & Jasa Pengetikan 2. Percetakan 3. Penerbitan 4. Fotography & Videography Lokasi : Jln. Wijaya Kusuma Raya No. 62 Banta-bantaeng Makassar 90222

2 Responses to Skripsi FMIPA – Analisis Kadar Asam Salisilat dalam Krim Anti Jerawat yang Beredar Secara Spektrofotometri UV-VIS

  1. deska mengatakan:

    bagus buat referensi KTI

  2. chorneles mengatakan:

    range air dalam krim brapa??

Komentar :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s