KTI Kesehatan Gigi – Perasaan Takut Pada Anak Siswa SD dalam Melakukan Perawatan Gigi

Tulisan lengkap dalam bentuk word….GRATIS…  silahkan klik link (judul yang berwarna biru dan bergaris bawah) berikut ini untuk mengambil datanya (mendownload): KTI Kesehatan Gigi – Perasaan Takut Pada Anak Siswa SD dalam Melakukan Perawatan Gigi

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.   Mengetahui Rasa Takut

    Takut  merupakan suatu perasaan yang bisa dialami oleh setiap orang dalam kehidupannya setiap  hari. Takut sering berhubungan erat.Saat orang merasa takut akan sesuatu, walaupun perasaan takut merupakan sesuatu perasaan gelisah terhadap suatu yang diharapkan.. Sebaliknya rasa takut merupakan respon terhadap sesuatu bahaya yang timbul pada saat ini. Maka di sini rasa takut berkaitan erat dengan di sini dan sekarang (masa kini).

     Rasa takut yang dialami anak  adalah hal biasa. Namun, ada baiknya Anda membantu mengatasinya agar ketakutan tersebut tak berlanjut menjadi fobia. Merasa takut  dalam  situasi tertentu yang tidak nyaman, tentu tidak pernah menyenangkan. Namun, ketakutan sebenarnya merupakan suatu keadaan alamiah yang membantu individu melindungi dirinya dari suatu bahaya, sekaligus memberi pengalaman baru. Bahkan, pada anak-anak, perasaan seperti ini tidak hanya normal, tetapi juga sangat dibutuhkan.Merasakan dan mengatasi rasa.takut dapat membantu anak-anak mempersiapkan diri untuk menghadapi pengalaman-pengalaman yang membingungkan dan situasi yang menantang dalam kehidupan. Memiliki ketakutan terhadap hal-hal tertentu sebenarnya bisa membantu untuk menjaga tingkah lakunya.

1.    Pengertian dan Perbedaan Rasa Takut

     Rasa takut adalah emosi primer yang diperoleh bayi setelah lahir. Rasa takut merupaka respon primitif dan merupakan suatu mekanisme protektif untuk melindungi seseorang dari bahaya dan peng rusakan diri.  Rasa takut dapat digunakan untuk menghindarkan anak dari keadaan bahaya, baik fisik maupun sosial.Rasa takut kebanyakan diperoleh pada masa anak dan remaja, dan rasa takut ini menetap sampai dewasa. Rasa takut lebih banyak ditemukan pada

 anak perempuan daripada laki-laki. (E Arlia Budiyanti, Yuke Yulianingsih H, 2001).

     Rasa takut juga dapat didefenisikan sebagai suatu unsur utama dari perasaan, dalam kehidupan dan merupakan naluri yang memperingatkan manusia akan adanya bahaya agar siap melindungi dan mempertahankan diri dari ancaman tersebut. (Fajriani Hendrastuti, 2003)

      Rasa takut adalah sifat kepribadian dan dapat berubah kebimbangan, ketegangan, atau kegelisahan yang berasal dari antisipasi terhadap bahaya,yang sumbernya umumnya tidak diketahui dan tidak dikenal

2.    Macam-Macam Rasa Takut

        Rasa takut pada anak ada dua macam yaitu : (Fajriani Hendrastuti, 2003)

1. Rasa Takut Subyektif

Rasa takut subyektif merupakan rasa takut yang bersifat sugesti yaitu adanya rasa takut yang timbul oleh cerita-cerita dan pengalaman orang lain, tanpa seorang anak pernah mengalaminya. Rasa takut ini didapatkan terutama oleh orangtua dan lingkungan sekitarnya,dapat pula timbul karena pengaruh menonton televisi, karikatur, radio dab buku yang biasanya tersimpan dalam pikiran seorang anak yang dapat menimbulkan rasa takut akibat image yang salah. Seorang anak belum mempunyai banyak pengalaman sehingga jika ada orang yang bercerita atau melihat sesuatu yang menyakitkan, dalam diri seorang anak akan berkembang rasa takut yang berkesan dalam pikiran dan imajinasinya yang hidup sehingga sesuatu dapat menjadi hebat dan besar, karena seorang anak sangat peka terhadap sugesti. Rasa takut seorang anak biasanya akan hilang apabila dapat dibuktikan atau diyakinkan bahwa suatu obyek atau hal itu tidak sesuai dengan yang dipikirkannya.

2. Rasa Takut Objektif

Merupakan rasa takut yang dirasakan sendiri oleh penderita yang disebabkan oleh rangsangan fisik yang langsung diterima oleh panca indera anak. Tanda-tanda fisik yang nampak pada seseorang apabila dalam keadaan takut berupa peningkatan debaran jantung, ketegangan otot dan tanda-tanda emosi lainnya. Rasa takut obyektif juga dapat bersifat asosiatif seperti seperti pengalaman yang dialami seorang anak yang tidak adanya hubungannya dengan sakit gigi, misalnya anak pernah dirawat dirumah sakit dan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, pengalaman ini membuat anak merasa takut apabila melihat orang yang berbaju putih. Adanya rasa takut  dapat merendahkan ambang rasa sakit, sehingga rasa sakit yang ringan saja dapat membuat ketakutan yang meningkat.

B.   Tingkah Laku Anak Saat Perawatan Gigi

4 kategori tingkah laku anak yang di kenal oleh Frankl dkk adalah:  (G.G.Kent, A.S. Blinkhorn, 2005)

  1. Sangat negatif : menolak perawatan, meronta-ronta dan membantah, amat takut, menangis kuat-kuat, menarik atau mengisolasi diri, atau keduanya.
  2. Sedikit negatif : mencoba bertahan, menyimpan rasa takut dari minimal sampai sedang , nervus atau menangis.
  3. Sedikit positif : berhati-hati menerima perawatan dengan agak segan, dengan taktik bertanya atau menolak,cukup bersedia bekerja sama dengan dokter/perawat gigi.
  4. Sangat positif : bersikap baik dengan operator, tidak ada tanda-tanda takut, tertarik pada prosedur, dan membuat kontak verbal yang baik.

C.   Perasaan Takut  Anak Pada Perwatan Gigi

Pada anak, perkembangan fungsi penguasaan diri, perkembangan emosi seperti rasa takut, maupun perkembangan motoriknya belum berkembang sepenuhnya. Sehingga pada suatu perawatan, perilaku anak masih sulit dikendalikan. (Hendrastuti,fajriani, 2003)

Rasa takut  terhadap perawatan yang dilakukan oleh dokter/perwat gigi, pada umumnya merupakan asumsi pribadi. Ketidak tahuan penderita akan perawatan yang dilakukan oleh dokter/perawat gigi, merupakan faktor utama untuk timbulnya rasa takut. Selain itu pula, masih ada anggapan bahwa perawatan atau pengobatan gigi ke dokter/perwat gigi merupakan hukuman penderita terhadap keadaan gigi dan mulutnya yang buruk. Adanya asumsi diatas akan merupakan hambatan untuk berobat gigi. (Heriandi Sutadi,1992)

Beberapa ahli melaporkan bahwa pada umumnya rasa takut  timbul akibat pengalaman perawatan gigi semasa anak-anak. (Heriandi Sutadi,1992)

1.    Sumber Rasa Takut  Anak Dalam Perawatan Gigi

Sumber utama rasa takut dalam perawatan gigi pada anak adalah riwayat medic yang telah dialami, kecemasan maternal, dan kepeduliannya terhadap masalah gigi. Bagi seorang anak, mungkin tidak ada bedanya antara seorang dokter umum dan dokter gigi, karena mereka memakai baju putih yang sama. Rasa sakit pada kunjungan ke dokter, di bayangkan oleh anak akan dialaminya saat berkunjung ke dokter gigi. (Sri H Soemartono, 2003)

Pada anak yang sedang berkembang terutama anak pra sekolah (3-5 tahun) mereka baru mulai memfomulasikan konsep waktu dan diri (self) serta membedakan suasana hati mereka dengan kejadian-kejadian eksternal. Anak belajar dari lingkungan dan keluarga merupakan yang pertama kali berpengaruh terhadap sikap anak. Telah dibuktikan bahwa, ada hubungan yang yang bermakna antara rasa takut itu dan tingkah laku anak pada usia 3-7 tahun pada kunjungan pertama ke dokter gigi.dan selanjutnya ada pula hubungan  yang sangat bermakna pada anak usia 3-4 tahun. Demikian juga dari saudara kandung, anak mulai mendengar cerita mengenai hal-hal yang tidak menyenagkan tentang perawatn gigi. Juga dari seluruh anggota keluarga, yang secara tidak sadar membicarakan bagaimana mereka menerima perawatan gigi, yang diikuti pula oleh anak yang belum pernah mempunyai pengalaman dalam perawatan gigi. Pengalaman yang tidak menyenangkan dalam perawatan gigi pada anak akan berpengaruh pula pada tingkah lakunya sehingga memerlukan bwaktu untuk mengembalikan kepercayaannya. (Sri H Soemartono,2003)

Rasa takut pada seorang anak kebanyakan terjadi pada kunjungan pertama ke dokter gigi tetapi pada umumnya anak dapat mengontrol rasa takut ini dengan daya pikirnya seorang anak tidak dapat mengontrol rasa takutnya sering disebabkan juga oleh sikap orang tua yang salah sehingga menyebabkan rasa takut yang sudah ada sejak dari rumah. Biasanya sikap seorang anak sering berubah-ubah dalam waktu singkat, terkadang anak mau menerima perwatan gigi debgan baik tetapi disaat lain menjadi tidak patuh, perubahan sikap ini biasanya  disebabkan keinginan seorang anak untuik menghindarkan diri dari rasa sakit atau rasa tidak nyaman yang ditafsirkan sebagai sesuatu yang menggangu kesenangannya. (Hendrastuti,fajriani, 2003)

2.    Penyebab Rasa Takut  Anak Dalam Perawatan Gigi

Pada umumnya penyebab rasa takut  dalam perwatan gigi pada anak timbul terutama pada alat yang dilihatnya, yang sepertinya akan membuatnya merasa sakit. Itu situasi dan keadaan lingkungan perawtan gigi sangat berpengaruh timbulnya rasa takut sebagai contoh ruang tunggu yang pengap atau panas berbeda dengan ruang tunggu yang adem sejuk dan nyaman. Kecemasan pasien anak terhadap perawatan gigi sering kali timbul karena anak merasa takut berada di ruang praktik dokter gigi. Ruangan praktik dokter gigi sebaiknya dibuat senyaman mungkin sehingga anak merasa seperti di rumahnya sendiri. Ruangan praktik tersebut dibedakan antara ruang tunggu dan ruang perawatan. Jika tempat praktik tidak terbatas hanya untuk pasien anak-anak, salah satu metode yang efektif diantaranya adalah dengan pembuatan ruang tunggu yang dibuat sedemikian rupa khusus untuk anak. Membuat ruang penerimaan yang nyaman dan hangat sehingga anak merasa tidak asing ketika memasukinya, oleh karena itu dekorasi ruangan sangat memegang peranan penting dan erat kaitannya dengan kondisi psikologis mereka.

Faktor lain yang seringkali menimbulkan rasa takut pada perawatan gigi anak adalah keadaan lingkungan kamar praktek, seperti bau obat-obatan, peralatan, bunyi bur atau mesin. Dan pengalaman rasa sakit pada perawatan terdahulu sehingga anak akan takut pada perawatan gigi selanjutnya. ( Hendrastuti, Fajriani, 2003).

Pasien biasanya mengatakan bahwa ketakutan mereka sampai pada puncaknya ketika menunggu di ruang tunggu. Menghadapi bayangan yang mungkin terjadi sering kali lebih buruk daripada kejadian itu sendiri. Pasien biasanya mengatakan bahwa ketakutan mereka lebih tinggi ketika menunggu di ruang tunggu daripada ketika mereka sudah duduk di unit kursi gigi. (Arlette Suzy Puspa Pertiwi, Yetty Herdiyati Nonong, Inne Suherna Sasmita, 2010). Selain itu salah satu jawaban yang paling tepat mengapa orang takut terhadap perawatan gigi adalah mengantisipasi penderitaan, karena rasa sakit yang dialami. (G.G.Kent, A.S. Blinkhorn, 2005)

D.   Penanganan Rasa Takut  Pada Anak Dalam Perawatan Gigi

Pada saat anak memasuki ruang perawatan gigi dengan sejumlah perasaan takut, hal yang pertama harus dilakukan oleh dokter gigi adalah menempatkan anak senyaman mungkin dan mengarahkannya bahwa pengalamannya ini bukanlah hal yang tidak biasa. Jika tempat praktik tidak terbatas hanya untuk pasien anak-anak, salah satu metode yang efektif di antaranya adalah dengan pembuatan ruang tunggu yang dibuat sedemikian rupa sehingga anak merasa berada di lingkungan rumahnya sendiri. Membuat ruang penerimaan yang nyaman dan hangat sehingga anak merasa tidak asing ketika memasukinya, oleh karena itu dekorasi ruangan sangat memegang peranan penting dan erat kaitannya dengan kondisi psikologis mereka. (Arlette Suzy Puspa Pertiwi, Yetty Herdiyati Nonong, Inne Suherna Sasmita, 2010)

Selain itu juga Yang harus dilakukan oleh sorang dokter gigi bila berhadapan dengan pasien anak-anak dengan rasa takut adalah menghilangkan rasa takut anak, tindakan yang dapat mengurangi rasa takut itu antara lain, mengurangi ketakutan keluarga pasien, ketakutan pasien sendiri, mengurangi keributan dan mengurangi perasaan sakit. Hal ini dapat dilakukan dengan menciptakan hubungan yang baik antara dokter dan pasien anak serta pengertian dari orang tua anak.(Fajriani Hendrastuti,2003)

 Untuk menghindari ketakutan anak, perkenalkan anak dengan dokter gigi sedini mungkin.mulailah pada usia 6 bulan sampai 1 tahun dimana giginya sudah mulai tumbuh, ajak anak untuk menemani orang tua untuk berkonsultasi dengan dokter gigi. Anak akan merasa senang dan tidak takut jika dokter yang menanganinya menyenangkan hati anak tersebut, terlihat ramah, murah senyum, sabar dan amu menyapa anak dengan lembut. Jangan memaksa anak untuk pergi kedokter gigi ketika suasana hatinya sedang tidak baik,pilih waktu yang tepat agar anak merasa nyaman, tampak ceria, dan mau berbagi cerita.(Gracianti Afrilina, Juliska Gracinia, 2006)

1.    Peranan Orang Tua Terhadap Perawatan Gigi Anak

Orang tua sangat berperan pada perawatan gigi anak, sikap yang masih sering dijumpai adalah orang tua jarang sekali mengantar anaknya kedokter gigi untuk pemeriksaan rutin atau sekedar untuk konsultasi, biasanya orang tua baru mengantarkan anaknya kedokter gigi apabila ada keluhan atau anak sakit gigi. Sikap yang demikian tentunya kurang menguntungkan sebab selain perwatannya lebih sulit bagaimanapun juga menjegah lebih baik daripada mengobati.   (Fajriani Hendrastuti, 2003).

Dokter gigi perlu mengetahui beberapa informasi mengenai kondisi anak kepada orang tuanya,serta mengamati bagaimana hubungan anak itu kepada orang tuanya. Didikan orang tua merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap perilaku anak menerima perawatan gigi. Sikap orang tua yang berpengaruh pada anak terhadap perawatan gigi antara lain : . (Fajriani Hendrastuti, 2003)

1. Orang tua yang otoriter

            Sikap otoriter yang ditunjukkan orang tua biasanya membuat seorang anak cenderung patuh, bertingkah laku baik, ramah dan sopan. Sikap anak yang seperti ini akan menerima perwatan dengan baik yang dilakukan oleh dokter/perawat gigi, tetapi meskipun demikian dokter/perawat harus bersikap tidak menambah ketakutan yang mungkin akan dialami anak serta mengingatkan orang tua untuk bersikap netral.

2. Orang tua yang terlalu sabar

            Orang tua yang menunjukkan perhatian yang berlebihan kepada anak dan segala permintaan/kebutuhan anak selalu dipenuhi,sehingga sikap yang seperti ini akan membuat anak tidak mengalami perkembangan dalam reaksinya.perilaku anak akan menjadi pemarah, tidak memiliki kontrol diri, mempunyai keinginan yang berlebihan, menjadi lengah, dan tidak penurut. Sikap orang tua yang demikian mengharuskan dokter gigi memberikan pengertian kepada orang tua terhadap tindakan yang mungkin akan dilakukan dalam perwatan.karena anak dengan orang tua seperti ini biasanya memiliki sikap menentang.

3. Orang tua yang terlalu melindungi

            Sikap seperti ini membuat anak akan mengalami keterlambatan dalam pematangan sosial dan aturan-aturan sosial anak akan memiliki perasaan selalu dibawah, merasa tidak berdaya, malu, dan sering merasa cemas. Bisanya orang tua yang terlalu melindungi memiilki perasaan takut yang berlebihan untuk itu dokter/perawat gigi harus memberi lebih banyak waktu untuk menjelaskan hal-hal yng berhubungan dengan perawatan gigi.sebab jika rasa takut pada orang tua berkurang akan mengurangi  pada anak.

4. Orang tua yang lalai

            Sikap ini menunjukkan kurangnya perhatian orng tua terhadap kesehatan gigi anaknya. Biasanya tipe orang tua seperti ini terlihat setelah kunjungan pertama dan saat perjanjian kunjungan berikutnya anak tersebut tidak kembali. Hal lain yang Nampak adalah penyuluhan dan motivasi-motivasi yang diberikan oleh dokter/perawat gigi tidak dijalankan dengan baik.penyebab ini mungkin diakibatkan oleh kesibukan orang tua sehingga anak menjadi kurang perhatian.

5. Orang tua yang manipulatif

            Orang tua yang suka bertanya secara berlebihan, dalam hal perawatan gigi pertanyaan berkisar berapa lama perwatan, proses mendiagnosis penyakit dan proses perawatan gigi. Keingintahuan orang tua ini biasanya justru membuat anak semakin takut. Dokter/perawat gigi harus mengatur situasi yang baik untuk berdiskusi dengan orang tua agar mereka dapat mengerti dan mengenal prosedur perwatan gigi dengan baik.

6.  Orang tua yang suka mencurigai

            Orang tua mempertanyakan perlunya perawatan gigi, pertanyaan ini biasanya bukan karena keingintahuan dari orang tua tetapi karena rasa ketidak percayaannya terhadap dokter gigi.Pendekatan kejiwaan anak merupakan salah satu solusi mengatasinya. Si buah hati yang terlanjur sudah trauma membutuhkan kondisi kejiwaan yang stabil. Berikut ini tips yang biasa dilakukan: 

Ajak si buah hati berkomunikasi dan bermain peran. Si buah hati bisa diajak bermain dokter-dokteran , di mana ia berperan  menjadi dokter. Di saat si buah hati memerankan dokter tersebut, yang dianggap sosok menakutkan, ajaklah komunikasi dan yakinkan bahwa si buah hati yang menjadi ‘dokter’ bukan tokoh yang menakutkan

  1. Belikan mainan yang berhubungan dengan peran dokter. Seperti stetoskop, baju dokter, dan lain- lain. Dengan menggabungkan langkah no 1, tentunya si buah hati akan  lebih ‘familiar’ dengan dunia kesehatan. Pada akhirnya si buah hati menjadi tidak takut pada dokter.
  2. Belikan buku seri anak  bercerita / mendongeng yang di dalamnya ada cerita tentang tokoh yang berani berobat ke dokter atau diperiksa oleh dokter.
  3. Buat si buah hati merasa aman dan nyaman saat berkunjung ke dokter. Misalnya ia diperkenankan membawa mainan kesukannya, memakai baju kesukaannya, atau sehabis berobat diajak ke tempat bermain/ makan  kesukaannya.
  4. Tidak salah juga apabila si buah hati diajak menemani kakak/ saudara lainnya berobatsehingga ia biasa melihat dan mendapatkan informsi  bagaimana menjaga kesehatan. Misalnya saat pergi ke dokter gigi, maka si buah hati mendapat pelajaran bagaimana cara menjaga giginya  dan menjauhi permen

2.    Penanganan Anak Secara Psikologis Oleh Dokter Gigi

     Pada tahun 1959 addelston mengembangkan cara membentuk tingkah laku pasien sesuai dengan yang diinginkan dibagi dengan 3 tahap yang dikenal dengan Tell-show-do yang dikenal dengan TSD: (Sri H Soemartono 2003)

  1. Tell yaitu mengatakan kepada anak dengan bahasa yang biasa dimengerti oleh anak tersebut, tentang apa yang akan dilakukan. Dalam hal ini di jelaskan juga alat-alat yang mungkin akan digunakan. Setiap kali anak akan menunjukkan hal yang positif diberikan penghargaan .
  2. Show yaitu dilakukan jika anak telah mengerti apa yang telah diceritakan. Untuk ini diperlukan model yang pilih sesuai dengan tindakan apa yang akan dilakukan tanpa menimbulkan rasa takut. Bertindak sebagai model mungkin dokter/perwat giginya sendiri orang tua atau pasien lain. Pilihan lain misalnya model gigi, poster, film, rekaman video, dan alat-alat peraga yang lain. Pada waktu penyampaian dijaga agar tidak menimbulkan rasa takut pada anak. Gerakan yang tiba-tiba atau suara bor atau mesin lain

kadang-kadang mengejutkan anak,mengakibatkan anak menjadi takut.

1.  Do yaitu tahap terakhir yang dilakukan jika tahap show telah dapat diterima oleh anak pada tahap do maupun show dilakukan sesuai dengan apa yang telah diceritakan maupun ditunjukkan.

         TSD dapat diterapkan pada anak dengan sikap, umur, dan kemampuan yang berbeda-beda , Sebenarnya TSD telah dilakukan kombinasi 3 cara untuk melakukan pendekatan yaitu : reinforcement, modeling, desensitisasi. (Sri H Soemartono, 2003)

2. Reinforcement

Merupakan tindakan untuk menghargai prestasi yang telah dicapai, agar prestasi tersebut diulang. Tindakan ini berupa imbalan yang akan menguatkan tingkah laku anak yang di inginkan pada waktu yang akan datang. Telah disepakati, bahwa dalam teori belajar dalam perkembangan anak, perilaku yang ditunjukkan adalah responnya terhadap imbalan dan hukuman dari sekitarnya. Bentuk imbalan yang sangat penting adalah kasih saying dan persetujuan yang pertama kali didapat dari orang tua dan kemudian dari teman sebaya. Imbalan dapat pula dalam bentuk materi, imbalan sosial misalnya dengan senyuman, belaian atau pujian. (Sri H Soemartono, 2003)

3. Modeling

Prinsip teknik ini adalah dengan mengikutsertakan anak untuk mengamati anak lain menjalani perawatan dan memperlihatkan tingkah laku yang baik selama perawatan gigi. Dapat pula mempergunakan film atau video yang memperlihatkan hasil yang memuaskan pada perawatan gigi anak.

4. Desensitisasi

Desensitisasi adalah suatu cara yang paling sering digunakan oleh psikolog untuk mengatasi rasa takut. Aplikasi desensitisasi dalam perawatan gigi anak yang pertama kali harus diketahui adalah objek yang ditakuti. Apabila sudah diketahui dapat disusun rangsangan yang menimbulkan rasa takut dan berdasarkan hal ini dilakukan desensitisasi, dengan tahapan meembuat pasien merasa relaks, dan membangun urutan rangsangan mulai yang paling rendah dan perlahan memperkenalkan perawatan yang akan di berikan kepada pasien tersebut.

Perihal andiagussalim
1. Pusat Rental Komputer & Jasa Pengetikan 2. Percetakan 3. Penerbitan 4. Fotography & Videography Lokasi : Jln. Wijaya Kusuma Raya No. 62 Banta-bantaeng Makassar 90222

19 Responses to KTI Kesehatan Gigi – Perasaan Takut Pada Anak Siswa SD dalam Melakukan Perawatan Gigi

  1. Ping-balik: makalah keperawatan gigi | ermiystikes

  2. Susi mengatakan:

    Min.. boleh minta cover dan daftar pustakanya? susimeiandari@ymail.com
    terimakasih🙂

  3. fadly mengatakan:

    minta daftar pustakanya dong,,udah keliling cari referensinya tapi kag dapat”…anaksame@gmail.com

  4. reta wahnate mengatakan:

    boleh minta daftar pustakanya ga,..
    buat referensi KTI makasih

  5. safri mengatakan:

    admin tolong dong referensinya butuh banget ini buat KTI. pleaseee mohon banget ini safriyulian@gmail.com

  6. Muh Imran mengatakan:

    minta daftar pustaka dan referensinya…

    balas secepatnya…kirim yah daftar pustakanya dngn referensinya di facebook gua:rezkimithu@yahoo.co.id

  7. WenNy Maciih Oendhenk mengatakan:

    Tolong donk referensiX…!

  8. Luna Yunita mengatakan:

    tolong kirim daftar pustakanya jg dong.. di luna_hafizh@yahoo.com..
    makasih sebelumnya…

  9. desvitafitriana mengatakan:

    sumber referensinya dari mana aja ya ? minta dikirim k anggifitriani92@ymail.com butuh banget nih buat tugas🙂 terimakasih

  10. siti norhidayati mengatakan:

    referensinya duuunkkk🙂

  11. Wirza Effendi mengatakan:

    boleh minta referensi dan daftar pustakanya gan..
    kirim ke email nch yach azha.rizha91@yahoo.com
    makacih wat bantuannya

  12. iya gan minta daftar pustaka sama penulis KTI ini dong kirim ke pangestikaoct@gmail.com
    thx🙂

  13. Yogy Onsu mengatakan:

    boleh minta referensi sama daftar pusataka nya ga,perlu banget buat KTI

  14. randa mengatakan:

    referensinya boleh tw ngaak? rhannda@yahoo.co.id

  15. ary mengatakan:

    gan nta tolng sma covernya dunk,..kan ga bsa tau spa penulis sma taunnya
    arydentis@yahoo.com

  16. pempem mengatakan:

    buku referensinya apa aja ya? tolong yang udah tau kirim ke vembri.irawati@yahoo.com lagi butuh banget buat KTI, terimakasih.

  17. Mpu Kaos mengatakan:

    copas, ya. tq,

  18. dede mengatakan:

    bole minta daftar pustakanya gan . .

Komentar :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s